Ada sesuatu yang “seksi” dari membicarakan Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan—bukan karena ia sempurna, tetapi justru karena setiap noda kecil di atasnya akan terlihat begitu jelas.
Bayangkan Sidenreng Rappang sebagai selembar kertas putih. Bersih, terang, dan memiliki ruang yang luas untuk menuliskan banyak cerita. Ketika selembar kertas putih terkena setitik tinta, sekecil apa pun noda itu, mata akan dengan mudah menangkapnya. Orang-orang akan bertanya, memperbincangkan, bahkan mungkin lupa bahwa sebagian besar kertas tersebut masih tetap putih.
Begitulah kiranya Sidenreng Rappang hari ini.
Satu istilah belakangan ini begitu ramai dilekatkan kepada daerah ini: “Kota Passobis.” Sebuah julukan yang muncul dari fenomena aktivitas penipuan daring yang dilakukan oleh segelintir orang. Tentu, tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan. Penipuan tetaplah penipuan, siapa pun pelakunya dan dari mana pun ia berasal.
Namun, menjadi persoalan ketika perbuatan segelintir orang kemudian digunakan untuk mewakili wajah sebuah daerah.
Sungguh tidak adil jika identitas sebuah kabupaten yang memiliki sejarah panjang, tradisi keagamaan yang kuat, tradisi intelektual, serta sumber daya manusia yang besar, kemudian diringkas hanya dalam satu istilah: Passobis.
Sidenreng Rappang bukan sekadar sebuah nama di peta Sulawesi Selatan. Ia adalah tanah yang memiliki karakter. Tanah yang sejak lama dikenal religius, tempat tumbuhnya tradisi keilmuan dan kehidupan sosial yang lekat dengan nilai-nilai agama.
Di tanah inilah lahir dan tumbuh banyak cendekiawan dan ulama. Salah satu nama besar yang sering dikaitkan dengan akar intelektual masyarakat Bugis adalah Prof. M. Quraish Shihab. Warisan intelektual dan keagamaan semacam ini seharusnya menjadi bagian penting dari cara kita memperkenalkan Sidenreng Rappang kepada dunia.
Sebab, bagaimana mungkin tanah yang dikenal melahirkan manusia-manusia yang tumbuh dengan ilmu, agama, dan kebijaksanaan, kemudian identitasnya begitu mudah disederhanakan menjadi “kota penipu online”?
Tanah yang Apa Pun Ditanam Akan Tumbuh
Ada sebuah ungkapan yang menurut saya sangat cocok menggambarkan Sidenreng Rappang: apa pun yang ditancapkan di tanah Sidenreng, akan tumbuh.
Bukan hanya secara harfiah karena tanahnya yang subur, tetapi juga secara filosofis.
Sidenreng Rappang adalah tanah yang mampu menumbuhkan banyak hal. Pertanian tumbuh. Perdagangan tumbuh. Pendidikan tumbuh. Pesantren dan kehidupan keagamaan tumbuh. Gagasan tumbuh. Bahkan anak-anak mudanya tumbuh dengan berbagai macam mimpi.
Kalau kemudian ada satu jenis pekerjaan ilegal yang juga tumbuh di tengah masyarakat, jangan sampai kita lupa bahwa itu hanya salah satu tanaman dari sekian banyak yang ada di tanah tersebut—dan tanaman itu pun harus dicabut jika memang merugikan orang lain.
Jangan biarkan satu gulma membuat kita lupa bahwa di tanah yang sama tumbuh begitu banyak tanaman yang memberi kehidupan.
Dari Kacamata Anak Muda
Sebagai anak muda, saya melihat persoalan ini dengan cara yang sedikit berbeda.
Di tengah masyarakat kita, pekerjaan Passobis—jika kita ingin menyebutnya demikian—bukanlah satu-satunya aktivitas yang dilakukan anak muda Sidenreng Rappang. Bahkan, ia hanya secuil dari kehidupan anak muda yang jauh lebih luas.
Ada anak muda yang pagi-pagi sudah berada di sawah. Ada yang berdagang. Ada yang membuka usaha kecil dari rumah. Ada yang kuliah di luar daerah. Ada yang menjadi guru, tenaga kesehatan, pekerja kreatif, pengusaha, petani, peternak, aktivis, santri, dan berbagai profesi lainnya.
Ada pula anak-anak muda yang setiap hari berusaha membangun sesuatu dari nol, meskipun tidak pernah masuk berita.
Mereka mungkin tidak viral.
Mereka mungkin tidak masuk pemberitaan nasional.
Mereka mungkin tidak menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Tetapi mereka ada.
Mereka adalah mayoritas cerita yang sering kali kalah ramai dari cerita tentang segelintir orang.
Karena itu, sungguh tragis apabila anak muda Sidenreng Rappang harus tumbuh dengan membawa beban stigma bahwa mereka berasal dari “Kota Passobis”.
Lebih tragis lagi apabila anak muda yang sedang berjuang mencari pekerjaan, membangun usaha, menempuh pendidikan, dan mengejar masa depan harus terlebih dahulu menjelaskan kepada orang lain bahwa tidak semua orang Sidenreng Rappang adalah penipu.
Padahal, seharusnya mereka tidak perlu meminta maaf atas sesuatu yang tidak mereka lakukan.
Jangan Robek Kertas Putihnya
Kita tentu tidak sedang meminta agar kesalahan ditutupi.
Jika ada warga yang melakukan penipuan online, hukum harus tetap berjalan. Edukasi harus diberikan. Pemerintah harus mengambil langkah. Masyarakat harus ikut menjaga. Dan anak muda harus diarahkan pada ruang-ruang produktif yang memberi masa depan.
Tetapi menghukum pelaku tidak sama dengan menghukum identitas sebuah daerah.
Kita boleh membersihkan noda tanpa harus membakar kertasnya.
Kita boleh mengakui adanya masalah tanpa menjadikan masalah itu sebagai identitas.
Sidenreng Rappang terlalu besar untuk hanya dikenal karena ulah segelintir orang.
Ada masjid-masjid yang hidup dengan lantunan ayat suci. Ada pesantren dan majelis ilmu. Ada sawah yang membentang. Ada petani yang bekerja sebelum matahari benar-benar tinggi. Ada pedagang yang membuka lapak. Ada guru yang mengajar. Ada orang tua yang menyekolahkan anaknya dengan penuh harapan. Ada mahasiswa yang membawa nama Sidrap ke berbagai kampus. Ada anak muda yang diam-diam sedang membangun masa depan.
Semua itu adalah Sidenreng Rappang.
Dan semuanya jauh lebih besar daripada sekadar sebuah julukan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Mengapa Sidrap disebut Kota Passobis?”
Lalu menggantinya dengan pertanyaan yang lebih penting:
“Apa yang bisa kita lakukan agar dunia kembali melihat warna putih yang jauh lebih luas daripada noda yang ada?”
Sebab Sidenreng Rappang adalah kertas putih.
Dan seperti kertas putih lainnya, noda memang mudah terlihat.
Tetapi jangan lupa: satu noda tidak pernah cukup untuk menceritakan seluruh isi sebuah kertas.
Sidenreng Rappang masih memiliki banyak halaman untuk ditulis.
Dan kepada anak-anak mudanya, kitalah yang memiliki kesempatan untuk menuliskan halaman-halaman itu dengan tinta yang berbeda: tinta ilmu, kerja keras, integritas, kreativitas, dan prestasi.
Agar suatu hari nanti, ketika orang menyebut Sidenreng Rappang, yang pertama kali muncul bukan lagi “Passobis”.
Melainkan tanah subur yang melahirkan manusia-manusia hebat. (Af)
Penulis : Afdal Syahrani Berlin Raly












