Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.
Dosen IAIN Parepare
Euforia Piala Dunia 2026 sedang mencapai puncaknya. Selama lebih dari sebulan, perhatian masyarakat dunia tertuju pada lapangan hijau. Rumah, warung kopi, ruang publik, dan media sosial dipenuhi perbincangan tentang gol, strategi pelatih, penampilan pemain, keputusan wasit, serta perjalanan tim yang menjadi kebanggaan para pendukungnya.
Piala Dunia 2026 menghadirkan atmosfer yang berbeda. Turnamen ini diikuti 48 tim, diselenggarakan di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, serta mempertandingkan 104 laga. Puncaknya mempertemukan Spanyol dan Argentina pada pertandingan final yang dijadwalkan berlangsung di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli 2026 waktu setempat.
Namun, di balik sorak-sorai penonton, selebrasi kemenangan, kekecewaan karena kekalahan, dan ketegangan pada setiap pertandingan, sepak bola sesungguhnya sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada perebutan trofi. Lapangan hijau menjadi ruang terbuka untuk belajar tentang kesabaran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, pengendalian diri, dan sportivitas.
Sepak bola dengan demikian tidak hanya menjadi tontonan. Ia dapat menjadi tuntunan dan madrasah karakter yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.
Sabar Menjalani Proses
Dalam sepak bola, kesabaran bukanlah sikap pasif. Kesabaran merupakan kemampuan mengendalikan diri sambil terus berusaha menemukan jalan terbaik. Sebuah tim tidak selalu dapat mencetak gol pada menit-menit awal. Para pemain harus sabar membangun serangan, menjaga penguasaan bola, membaca pergerakan lawan, dan menunggu momentum yang tepat.
Ada kalanya sebuah tim mendominasi pertandingan, tetapi gol tidak kunjung tercipta. Sebaliknya, tim yang lebih banyak bertahan justru mampu mencetak gol melalui satu serangan balik. Keadaan seperti ini mengajarkan bahwa besarnya usaha tidak selalu langsung menghasilkan keberhasilan sesuai harapan.
Dalam kehidupan, manusia juga menghadapi situasi serupa. Ada orang yang telah bekerja keras, tetapi belum memperoleh hasil terbaik. Ada peserta didik yang telah belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi belum mencapai nilai yang diharapkan. Ada pula orang tua yang telah mendidik anaknya dengan penuh kesungguhan, tetapi perubahan perilakunya belum segera terlihat.
Islam mengajarkan agar manusia tidak berhenti berusaha hanya karena hasil belum datang. Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral yang membuat seseorang tetap bertahan, berpikir jernih, dan tidak kehilangan arah ketika menghadapi tekanan.
Pemain yang sabar tidak mudah terpancing oleh provokasi. Pelatih yang sabar tidak terburu-buru mengubah strategi hanya karena timnya belum mencetak gol. Pendukung yang sabar tidak langsung mencaci pemain ketika harapannya tidak terpenuhi.
Di sinilah sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan sering kali lahir dari kemampuan mengelola tekanan, bukan hanya dari kekuatan fisik dan keterampilan teknis.
Disiplin Menjalankan Peran
Sepak bola juga memperlihatkan pentingnya kedisiplinan. Setiap pemain memiliki posisi, tugas, dan tanggung jawab. Penjaga gawang menjaga wilayahnya. Pemain bertahan menutup ruang serangan lawan. Pemain tengah mengatur ritme permainan. Penyerang berusaha menciptakan peluang dan mencetak gol.
Ketika seorang pemain meninggalkan posisinya tanpa perhitungan, keseimbangan tim dapat terganggu. Satu kelalaian kecil bahkan dapat memberikan kesempatan kepada lawan untuk mencetak gol. Karena itu, keterampilan individual harus berjalan bersama kedisiplinan menjalankan strategi tim.
Kedisiplinan tidak lahir secara tiba-tiba ketika pertandingan dimulai. Ia dibangun melalui latihan rutin, pengaturan pola makan, istirahat yang cukup, kepatuhan terhadap instruksi pelatih, dan kesediaan mengulang latihan secara konsisten.
Masyarakat sering hanya melihat pemain ketika tampil selama 90 menit. Padahal, di balik penampilan tersebut terdapat proses panjang berupa latihan, pengorbanan waktu, kelelahan, kegagalan, dan evaluasi yang tidak selalu disaksikan oleh penonton.
Pelajaran ini relevan dengan kehidupan pendidikan. Prestasi peserta didik tidak cukup dibangun melalui kecerdasan. Prestasi juga membutuhkan disiplin belajar, ketepatan waktu, konsistensi mengerjakan tugas, serta kemampuan mengendalikan berbagai godaan yang dapat mengganggu tujuan.
Allah Swt. mengingatkan pentingnya menggunakan waktu secara produktif:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3)
Disiplin merupakan bentuk penghargaan terhadap waktu dan amanah. Seorang Muslim semestinya mampu menyusun prioritas serta menjaga keseimbangan antara ibadah, pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sosial.
Tanggung Jawab atas Setiap Keputusan
Pertandingan sepak bola menunjukkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kesalahan mengumpan dapat memutus serangan. Pelanggaran di daerah pertahanan dapat menghasilkan tendangan penalti. Protes berlebihan dapat berujung kartu kuning, bahkan kartu merah.
Karena itu, pemain harus bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Ia tidak dapat terus-menerus menyalahkan wasit, rekan satu tim, pelatih, kondisi lapangan, ataupun tekanan penonton.
Karakter bertanggung jawab terlihat ketika seorang pemain berani mengakui kesalahan, segera memperbaiki permainan, dan tetap memberikan kemampuan terbaik bagi timnya. Pelatih juga bertanggung jawab terhadap strategi yang dipilih, sedangkan wasit bertanggung jawab menjaga pertandingan agar berjalan adil.
Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya dimiliki oleh orang yang menduduki jabatan formal. Setiap manusia bertanggung jawab atas peran dan amanah yang dipercayakan kepadanya.
Orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Guru bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Pemimpin bertanggung jawab terhadap masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab atas tugas dan masa depannya. Pengguna media sosial juga bertanggung jawab atas setiap tulisan, gambar, komentar, dan informasi yang disebarkannya.
Sportivitas: Jujur dalam Bermain, Adil dalam Menilai
Salah satu pelajaran terbesar dari sepak bola adalah sportivitas. Sportivitas bukan hanya kesediaan berjabat tangan sebelum atau setelah pertandingan. Sportivitas merupakan sikap jujur, adil, taat aturan, menghormati lawan, menerima keputusan wasit, dan mengakui hasil pertandingan dengan lapang dada.
Pemain yang sportif tidak berpura-pura terjatuh untuk memperoleh keuntungan. Ia tidak sengaja mencederai lawan, tidak memprovokasi, tidak memperlambat permainan secara berlebihan, dan tidak mencari kemenangan melalui kecurangan.
Sportivitas juga tampak ketika pemain membantu lawan yang terjatuh, mengeluarkan bola saat ada pemain yang cedera, meminta maaf setelah melakukan pelanggaran, dan tetap memberikan penghormatan kepada tim yang kalah.
Nilai tersebut menegaskan bahwa kemenangan tidak boleh dicapai dengan segala cara. Cara memperoleh kemenangan sama pentingnya dengan kemenangan itu sendiri. FIFA pun menempatkan fair play, penghormatan, kerja sama, dan integritas sebagai nilai penting yang perlu dijaga dalam sepak bola. Sportivitas tidak hanya berlaku bagi pemain di lapangan, tetapi juga bagi pelatih, ofisial, penonton, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pertandingan.
Dalam perspektif Islam, sportivitas berakar pada nilai kejujuran dan keadilan. Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak kebenaran karena Allah dan menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 8)
Ayat ini sangat relevan dengan dunia sepak bola. Rasa tidak suka kepada lawan tidak boleh menghilangkan keadilan. Dukungan kepada tim kesayangan tidak boleh membuat seseorang menutup mata terhadap kesalahan timnya sendiri. Sebaliknya, kebencian terhadap tim lawan tidak boleh menghalangi seseorang mengakui kehebatan dan keunggulannya.
Sportivitas menuntut keberanian untuk mengatakan bahwa keputusan yang benar tetap benar, meskipun merugikan tim yang kita dukung. Kesalahan tetap harus diakui sebagai kesalahan, meskipun dilakukan oleh pemain idola.
Rasulullah saw. juga memberikan peringatan tegas terhadap kecurangan:
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami.”(HR. Muslim)
Kecurangan mungkin dapat menghasilkan keuntungan sesaat, tetapi ia merusak kehormatan, kepercayaan, dan nilai sebuah kemenangan. Trofi yang diperoleh dengan kecurangan tidak memiliki kemuliaan. Sebaliknya, kekalahan yang diterima dengan jujur dan bermartabat dapat menjadi fondasi bagi keberhasilan pada masa berikutnya.
Mengendalikan Emosi di Tengah Rivalitas
Sepak bola merupakan permainan yang penuh tekanan emosional. Pemain dapat merasa marah ketika dilanggar, kecewa ketika peluang gagal, atau tidak puas terhadap keputusan wasit. Pendukung juga dapat terbawa emosi ketika tim kesayangannya kalah.
Namun, rivalitas tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Dukungan kepada sebuah tim tidak dapat dijadikan alasan untuk menghina, merendahkan, atau menyerang pendukung tim lain. Fanatisme yang tidak terkendali justru menghilangkan keindahan sepak bola.
Islam menempatkan kemampuan mengendalikan amarah sebagai salah satu tanda kekuatan karakter. Rasulullah saw. bersabda:
“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kekuatan sejati tidak hanya terlihat pada kemampuan berlari cepat, menendang keras, atau memenangkan duel. Kekuatan juga tampak pada kemampuan menahan emosi, menghormati lawan, menerima keputusan, dan tidak membalas perlakuan buruk dengan tindakan yang lebih buruk.
Karakter tersebut dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan pilihan, dukungan, organisasi, bahkan pandangan politik seharusnya tidak memutus persaudaraan. Manusia dapat berkompetisi tanpa saling membenci, berbeda tanpa saling merendahkan, serta berdebat tanpa kehilangan akhlak.
Kemenangan Tidak Diperoleh Sendirian
Tidak ada pemain yang dapat memenangkan pertandingan seorang diri. Pemain sehebat apa pun tetap membutuhkan umpan dari rekannya, perlindungan pemain bertahan, arahan pelatih, pelayanan tim medis, dan dukungan para pendukung.
Sepak bola mengikis kesombongan individual. Ia mengajarkan bahwa kemampuan pribadi baru memberikan hasil maksimal apabila ditempatkan dalam kerja sama yang baik.
Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Islam tentang tolong-menolong dalam kebajikan. Allah Swt. berfirman:
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Dalam keluarga, organisasi, lembaga pendidikan, dan masyarakat, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh satu orang. Setiap pihak memiliki kontribusi. Ada yang tampil di depan, ada pula yang bekerja dalam diam. Semuanya patut dihargai.
Menang Tanpa Merendahkan, Kalah Tanpa Membenci
Piala Dunia pada akhirnya hanya akan menghasilkan satu tim juara. Satu tim mengangkat trofi, sedangkan tim-tim lainnya harus menerima kenyataan bahwa perjuangan mereka berhenti sebelum mencapai tujuan tertinggi.
Namun, kehormatan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh jumlah gol atau trofi. Cara pemain menghadapi kekalahan, memperlakukan lawan, menghormati wasit, dan menyapa pendukung juga merupakan ukuran karakter.
Menang dengan mengejek lawan bukanlah kemenangan yang bermartabat. Kalah dengan menyebarkan kebencian juga bukan sikap yang terhormat. Kemenangan seharusnya disambut dengan rasa syukur, sedangkan kekalahan diterima dengan lapang dada dan dijadikan bahan evaluasi.
Sportivitas mengajarkan bahwa lawan bukanlah musuh yang harus dihancurkan. Lawan adalah mitra yang membuat kemampuan kita berkembang. Tanpa lawan, pertandingan tidak akan berlangsung. Tanpa kompetisi, kemampuan tidak akan teruji. Karena itu, menghormati lawan merupakan bagian dari menghormati permainan itu sendiri.
Euforia Piala Dunia 2026 seharusnya tidak berhenti pada perdebatan tentang tim yang paling kuat atau pemain yang paling hebat. Momentum ini perlu diarahkan menjadi pendidikan karakter.
Anak-anak dan generasi muda perlu diajak melihat bahwa di balik setiap pertandingan terdapat pelajaran tentang kesabaran menjalani proses, kedisiplinan menjalankan peran, tanggung jawab atas keputusan, pengendalian emosi, kerja sama, kejujuran, keadilan, dan sportivitas.
Sepak bola akan semakin bermakna apabila tidak hanya melahirkan penggemar yang fanatik, tetapi juga manusia yang sportif. Bukan hanya pemain yang terampil, melainkan pribadi yang jujur. Bukan hanya pendukung yang lantang bersorak, melainkan masyarakat yang mampu menghormati perbedaan.
Pada akhirnya, peluit panjang memang akan menghentikan pertandingan. Lampu stadion akan dipadamkan dan para pemain akan kembali ke negara masing-masing. Namun, nilai-nilai yang dipelajari dari lapangan hijau semestinya tidak ikut berakhir.
Mari menikmati sepak bola dengan gembira sambil tetap menjaga akhlak. Mari mendukung tim pilihan dengan penuh semangat tanpa merendahkan lawan. Mari belajar bahwa kemenangan memerlukan usaha, kekalahan membutuhkan kelapangan hati, dan kompetisi harus dijalani dengan kejujuran serta sportivitas.
Semoga euforia Piala Dunia 2026 tidak hanya meninggalkan kenangan tentang gol-gol indah dan pertandingan menegangkan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa karakter mulia merupakan kemenangan yang jauh lebih berharga daripada sebuah trofi.
Selamat menikmati layanan final jangan lupa shalat shubuhnya.












