Tiga Guru Besar Bedah Buku “Perubahan Sosial & Politik Masyarakat Kontemporer” Karya Dr. Rahmat Muhammad

Makassar, 13 Mei 2026 — Peluncuran buku Perubahan Sosial & Politik Masyarakat Kontemporer: Kajian Sosiologi Mikro, Mezo, dan Makro karya Dr. Rahmat Muhammad, M.Si. di Red Corner Cafe, Rabu (13/5/2026), menghadirkan diskusi akademik yang hangat dan kritis melalui pandangan tiga guru besar yang tampil sebagai penanggap buku.

Ketiga akademisi tersebut yakni Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd., (Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) 2008–2016), Prof. Dr. Mustari Mustafa, M.Pd., (guru besar UIN Alauddin, Makassar dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok 2018-2021), serta Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A.. (Rektor Universitas Hasanuddin 2014 s.d. 2022).

Dalam pandangannya, Arismunandar menilai buku tersebut tidak hanya berbicara tentang sosiologi, tetapi juga memuat pendekatan multidisiplin yang menyentuh aspek politik, ekonomi, hingga spiritualitas.

“Buku ini multidisiplin, bukan hanya aspek sosiologi, namun politik, ekonomi bahkan spiritual juga. Misalnya membahas Idulfitri dan fenomena sosial di masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai tulisan Rahmat Muhammad sangat kontekstual dan dekat dengan isu-isu kekinian. Salah satu yang disorot ialah pembahasan mengenai program nikah massal bagi keluarga prasejahtera yang difasilitasi pemerintah.

Menurutnya, program tersebut tidak boleh berhenti hanya pada seremoni pernikahan semata.

“Ini baru dimulai, bukan akhir. Keluarga harus tetap dibantu agar bisa keluar dari kondisi prasejahtera,” katanya.

Arismunandar juga menilai penulis memiliki keberanian dalam menyampaikan kritik sosial dan politik, termasuk saat membahas posisi kepolisian maupun demokrasi perwakilan.

“Penulis berani menyampaikan misalnya soal Polri kembali di jalan yang benar. Ada juga pemihakan terhadap demokrasi, bahwa politik memang harus dibiayai negara meskipun mahal,” tambahnya.

Foto oleh Rahmi A. Haska
Foto oleh Rahmi A. Haska

Sementara itu, Mustari Mustafa menyebut Rahmat Muhammad sebagai sosok sosiolog yang memadukan pendekatan praktikal dan teoritis sekaligus.

“Dalam filsafat dikenal sosiolog lahiriah dan batiniah. Penulis mampu memadukan keduanya,” ujarnya.

Mustari menilai buku tersebut menghadirkan moderasi berpikir dan kaya perspektif karena memuat banyak tema sosial yang dibahas dengan bahasa yang hidup dan dekat dengan pengalaman masyarakat.

“Ini buku sosiologi yang kaya. Tidak terlalu teoritis, tetapi teori hidup dalam kisah dan cerita. Saya menyebutnya sebagai magrifat sosiologi,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa buku tersebut menghadirkan ruang publik yang kritis melalui kritik-kritik sosial yang cerdas dan relevan dengan kondisi masyarakat hari ini.

“Tema-tema di buku ini penuh kritik cerdas. Ini penting untuk mengisi wacana terhadap berbagai kasus sosial di era post-truth saat ini,” jelasnya.

Karena itu, Mustari berharap buku tersebut dapat dibaca lebih luas oleh publik agar memperkaya diskursus sosiologi kontemporer.

Adapun Dwia Aries Tina Pulubuhu melihat karakter penulis sebagai seorang “ice breaker” yang mampu membaca fenomena sosial secara lebih dalam, layaknya melihat sisi belakang panggung dari sebuah drama sosial.

Ia mencontohkan pembahasan mengenai nikah massal yang menurutnya tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan, tetapi juga simbol kehadiran negara.

“Apa yang ada di balik nikah massal? Bukan hanya kemiskinan, tetapi ada simbol negara hadir. Namun siapa yang diuntungkan? Belum tentu hanya pasangan,” ujarnya.

Dwia juga menyoroti bagaimana penulis membedah fenomena reshuffle kabinet dan dinamika politik sebagai bagian dari proses negosiasi kekuasaan.

“Ada reshuffle semu dan reshuffle yang real. Penulis mencoba melihat apa yang ada di balik peristiwa-peristiwa itu,” katanya.

Menurut Dwia, buku tersebut ibarat “supermarket” teori sosiologi karena memadukan berbagai pendekatan seperti fungsionalisme, negosiasi, paradigma kritis, hingga paradigma simbolik.

Ia juga mengapresiasi keberanian dan kekritisan penulis dalam mengangkat tema-tema sosial, termasuk tulisan tentang fenomena anak muda menjadi anggota dewan.

“Buku ini lahir dari bincang-bincang warung kopi. Seperti karakter warung kopi, kadang panas, kadang dingin, kadang manis, kadang pahit. Dinamika itu terlihat jelas dalam buku ini,” tuturnya.

Peluncuran buku berlangsung interaktif dan dihadiri berbagai kalangan akademisi, media, mahasiswa, hingga birokrat. Diskusi yang berkembang menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap kajian sosiologi yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *