Tidak Menormalisasikan Perilaku Bullying Sebagai Bahan Candaan

Opini ditulis oleh : Nabila Reski (Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Parepare)

Fenomena  bullying  di  sekolah  menjadi  isu  sosial  dan  psikologis  yang  semakin  krusial karena berdampak langsung terhadap perkembangan karakter dan kepribadian siswa. Bullying tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga menurunkan rasa percaya diri yang merupakan aspek penting dalam proses belajar dan interaksi social. Kondisi ini semakin kompleks dengan munculnya pola pikir “mental crab”, yaitu kecenderungan menjatuhkan  atau  menahan  kemajuan  orang  lain  agar  tidak  lebih. Dalam  konteks  sekolah, mentalitas  seperti  ini  sering  muncul  akibat  normalisasi  perilaku  saling  merendahkan  yang dianggap “candaan”. Berbagai  penelitian  menunjukkan  bahwa  bullying  memiliki  korelasi  negatif  dengan kepercayaan diri siswa. Crab mentality merupakan  bentuk  gangguan  sosial-emosional  yang  menurunkan self-confidence  baik  pada pelaku  maupun korban, mental crab juga dapat menormalisasi perilaku saling   menjatuhkan yang berdampak negatif terhadap perkembangan pribadi siswa, sehingga korban  bullying  cenderung  mengalami  penurunan motivasi belajar, kecemasan sosial, dan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri. [1]

Bullying merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan maksud untuk menyakiti, melecehkan, menakuti, atau mengintimidasi seseorang. Biasanya dilakukan terhadap anak-anak yang berbeda, lemah, dan penyendiri. Perilaku ini meliputi tindakan secara fisik seperti memukul, mendorong, dan menendang. Sedangkan secara verbal merupakan tindakan yang mengarah kepada perkataan yang melecehkan, komentar-komentar yang negatif yang bertujuan untuk menyakiti danmerendahkan orang lain. Perilaku bullying memiliki potensi untuk dapat menjadikan pribadi tumbuh menjadi seorang yang sewenang-wenang. Normalisasiyang dilakukan terhadap tindak kekerasan bullying atau perundungan dapat berakibat pada tumbuhnya pelaku-pelaku kriminal yang dapat mengganggu orang sekitar di kemudian kelak. Cara penyelesaian masalah yang terbesit di pikiran seorang pelaku bullying cenderung mengarah kepada hal-hal yang berbau kekerasan.

Kurangnya kasih sayang dalam keluarga menjadi salah satu faktor dari tumbuhnya perilaku kasar dan tindak perundungan yang terjadi terhadap seorang pelaku bullying. Tindak perilaku bullying tidak dapat terlepas dari kehidupan para remaja saat ini. Pencarian jati diri seorang remaja seringkali dijadikan topeng dalam hal normalisasi perilaku tindak bullying. Kekerasan yang dilakukan seringkali dilakukan secara berkelompok. Corporal punishment yang dilakukan oleh banyak orang tua juga menjadi salah satu penyebab tumbuhnya perilaku tindak bullying. Mengatakan kata-kata kasar, membentak, memukul, serta hukuman lain yang berlebihan pada anak yang dilakukan dengan alasan mendisiplinkan anak, membuat anak memiliki anggapan bahwa cara tersebut dapat diaplikasikan dalam pergaulan sehari-harinya. Seringkali, orang tua tidak menyadari sistem parenting berlebihan yang dilakukannya dapat menumbuhkan anak menjadi seorang pelaku tindak bullying. Perilaku tindak bullying, dapat meninggalkan dampak traumatis terhadap korbannya melalui kekerasan fisik maupun psikologis yang dialami.

Bullying dianggap sebagai sebuah tingkah laku yang kompleks. Seorang anak yang lahir di dunia, tidak terlahir sebagai seorang perundung. Perilaku perundungan juga tidak secara sengaja ditanamkan kepada anak-anak. Berbagai faktor memiliki pengaruh dalam tumbuh kembang seorang anak tersebut menjadi seorang perundung. Tak hanya faktor biologi dan temperamen, pengaruh keluarga dan teman, serta pengaruh lingkungan sekitar merupakan faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak menjadi seorang perundung. Verlinden, Herson & Thomas (2000) melalui penelitiannya membuktikan bahwa gabungan faktor individu, sosial, risiko lingkungan, dan perlindungan menentukan terjadinya tindakan bullying terjadi. Menurut Yusuf dan Fahrudin (2012), terdapat berbagai faktor yang menyebabkan timbulnya bullying di tengah-tengah masyarakat. Faktor individu, faktor keluarga, faktor teman sebaya, faktor sekolah, faktor media, dan faktor self-control merupakan faktor-faktor yang berkaitan dengan tumbuhnya perilaku bullying pada seorang individu.

  1. Faktor Individu; Dalam faktor individu, orang yang melakukan bullying dan korban dari tindakan bullying itu sendiri merupakan faktor utama penyebab bullying terjadi:
  2. Pembuli (bullies) Pembuli biasanya merasa dirinya memiliki kekuatan fisik secara lebih sehingga ia merasa mampu melakukan tindakan bullying. Namun mereka tidak memiliki rasa tanggungjawab atas apa yang mereka lakukan. Seorang pelaku bullying biasanya memiliki karakter yang selalu ingin mengendalikan dan mendominasi individu lain, serta tidak memiliki kemampuan dalam memahami dan menghargai. Terkadang, pembuli merupakan korban bullying yang akhirnya melakukan balas dendam dengan tindakan bullying pula (Verlinden, Herson & Thomas, 2000).
  3. Korban (victims). Seseorang yang menjadi korban dalam tindakan pembulian biasanya memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah. Menurut Nansel dkk. (2021) korban ialah seseorang yang dijadikan target oleh para pelaku bullying untuk mendapatkan perlakuan bullying. Seorang korban buli biasanya memiliki ciri-ciri perilaku seperti pendiam, pasif, sensitif, lemah, dan tidak merespon ketika diganggu.
  4. Faktor keluarga; Keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam menyebabkan timbulnya tindakan bullying. Hal ini karena keluarga merupakan lingkungan utama anak dalam berkembang dan mengembangkan dirinya. Menurut Taufik Rahman (2002) yang dilansir melalui laman Universitas Ciputra, ketidakharmonisan dalam keluarga yang seringkali berkelahi di depan anak mampu menyebabkan terjadinya perubahan sikap pada anak. Anak dapat menjadi seorang yang memiliki sifat agresif dan kasar terhadap orang-orang sekitarnya karena meniru orang tuanya di rumah dan menganggap hal tersebut merupakan hal yang normal untuk dilakukan.
  5. Faktor teman pergaulan; Teman pergaulan seringkali menjadi faktor seseorang melakukan tindakan bullying. Hal ini disebabkan karena pengaruh pada teman sebaya dalam kelompok pergaulan lebih mudah untuk diterima. Adanya teman sebaya yang hanya menjadi pengamat tanpa melakukan tindakan apapun, tanpa disadari telah membantu pembuli memperoleh dukungan kekuasaan, popularitas, dan dukungan status.
  6. Faktor sekolah; Tindakan bullying seringkali terjadi di kalangan para pelajar. Hal ini disebabkan emosional pelajar yang masih tergolong labil. Kurangnya pengawasan dan ketidakacuhan pihak sekolah terhadap kasus yang terjadi di kalangan pelajar membuat para pelajar tidak takut dalam melakukan tindakan 6 bullying.
  7. Faktor media; Penayangan yang ada di televisi maupun media sosial tentunya memberikan sebuah pengaruh pada kondisi seseorang, khususnya pada anak-anak yang sedang dalam tahap mengamati dan meniru. Penayangan kekerasan seperti acara tinju, sinetron yang menunjukkan tindakan bullying, dan tayangan kekerasan lainnya di jam-jam anak sedang beraktivitas tentunya memberi pengaruh penting dalam timbulnya tindakan bullying.
  8. Faktor self-control; Dalam penelitian Unnever & Cornell (2003), self-control yang rendah serta Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang dimiliki oleh seseorang merupakan faktor kritis penyebab terjadinya tindakan bullying.

Tindakan mengejek atau meledek yang seringkali disepelekan oleh kebanyakan orang ternyata termasuk dalam tindakan bullying. Meski hal tersebut dinilai sebagai tindakan yang umum dan dianggap mampu mencairkan suasana, tanpa disadari hal ejekan tersebut ternyata mampu menyakiti orang yang diejeknya, dalam hal ini korban. Tidak melulu perundungan berbentuk kekerasan seperti pemukulan, mendiamkan seseorang juga termasuk pada tindakan bullying. Hal-hal yang dianggap remeh seperti itu ternyata mampu memberikan dampak besar bagi para korbannya, baik jangka pendek ataupun jangka panjang[2]

Rujukan:

[1] Auliya Alvi Dama Yanthi and others, ‘Stop Normalisasi Perilaku Bullying’, Uiversitas Pembagunan Nasional ‘Veteran’ Jakarta, 2021 <https://repository.upnvj.ac.id/14654/1/Kelompok Pulau Sumbawa 2_Stop Normalisasi Perilaku Bullying_Prospektiv.pdf>.

[2] Fira Putri Salsabella and Ragwan Albaar, ‘Dampak Bullying Terhadap Rasa Percaya Diri Siswa Dan Normalisasi Budaya Mental Crab : Studi Kasus Kualitatif Di MTsN 1 Lamongan’, 6.April (2026), 1–8 <https://doi.org/10.55352/bki.v6i1.2292>.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *