Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.
Dosen IAIN Parepare
Ketua HIMPAUDI Kota Parepare
Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Parepare
Di era digital yang serba cepat ini, kekhawatiran tentang pembentukan karakter anak usia dini semakin nyata. Anak-anak yang seharusnya menghabiskan waktu bermain di luar rumah, berinteraksi dengan teman sebaya, dan belajar dari pengalaman langsung, kini banyak yang lebih akrab dengan layar gawai daripada dengan dunia sekitarnya. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah generasi yang tumbuh dengan minim interaksi fisik dan sosial mampu menjadi generasi emas Indonesia 2045?
Fenomena ini bukan sekadar masalah waktu layar (screen time), tetapi lebih dalam lagi, menyentuh aspek perkembangan sosial-emosional, moral, dan karakter anak. Anak usia dini berada pada fase emas pertumbuhan, di mana pengalaman, sentuhan, dan interaksi nyata menjadi pondasi pembentukan kepribadian. Jika fase ini diisi dengan keterbatasan interaksi sosial dan kurangnya permainan bermakna, kita berisiko kehilangan generasi yang memiliki empati, kerja sama, dan daya juang yang kuat.
Para ahli perkembangan anak sepakat bahwa bermain adalah bahasa alami anak. Bermain bukan sekadar hiburan, tetapi sarana belajar yang kaya akan stimulus. Melalui bermain, anak belajar memecahkan masalah, mengatur emosi, mengembangkan kreativitas, dan membangun hubungan sosial. Sayangnya, di era digital, konsep bermain sering tereduksi menjadi aktivitas pasif menatap layar.
Di sinilah urgensi untuk menghidupkan kembali ruang-ruang bermain yang merdeka, kreatif, dan penuh kegembiraan. Belajar yang membahagiakan tidak hanya membuat anak cerdas, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, empati, dan semangat berkolaborasi. Pendidikan anak usia dini (PAUD) seharusnya tidak memisahkan bermain dan belajar, melainkan memadukannya dalam kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.
Peringatan HUT RI ke-80 tahun ini mengusung semangat kebangkitan nasional yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini: mengisi kemerdekaan dengan karya nyata dan persatuan. Semangat inilah yang harus kita tanamkan sejak dini kepada anak-anak. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga kebebasan untuk berpikir, berkreasi, dan membangun masa depan yang lebih baik. Tema resmi peringatan HUT ke-80 RI, yakni “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Tema ini, menurut Presiden Prabowo, dipilih untuk mencerminkan arah perjuangan dan visi besar bangsa Indonesia saat ini dan di masa depan. “Kita ingin selalu menjadi negara yang bersatu Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Ini adalah dorongan kita, hasrat kita, keinginan nenek moyang kita, kita bangun persatuan dan kesatuan menjadi suatu kekuatan untuk menjaga kedaulatan dan kemakmuran bangsa Indonesia,” tegas Presiden.
Sejalan dengan itu, tema Hari Anak Nasional 2025 menegaskan pentingnya peran anak sebagai penerus bangsa yang sehat, cerdas, berkarakter, dan bahagia. Tema Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2025 adalah “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema ini mencerminkan peran penting anak-anak dalam mewujudkan masa depan bangsa dan cita-cita Indonesia Emas. Menggabungkan kedua momentum ini, kita dapat mengajarkan kepada anak bahwa mereka adalah bagian dari cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Bermain dengan merdeka dan belajar dengan bahagia adalah cara sederhana namun kuat untuk menanamkan rasa bangga dan cinta pada tanah air.
Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Parepare yang merupakan mitra Bunda PAUD Kota Parepare bersama Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Parepare dan Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Parepare, dalam rangka HUT RI ke-80 dan Hari Anak Nasional 2025, menyelenggarakan kegiatan “Merdeka Bermain, Bahagia Belajar” sebagai contoh nyata bagaimana konsep pendidikan yang memerdekakan dan membahagiakan anak dapat diwujudkan. Dengan tema “Bersama Anak, Wujudkan Indonesia Emas 2045 yang Terbaik, Sejahtera, Maju”, kegiatan ini menghadirkan suasana belajar yang meriah, penuh interaksi, dan sarat nilai kebangsaan. Dua agenda utama, Senam Massal Anak Indonesia Hebat dan Kolase Kerjasama Ibu dan Anak, menjadi simbol perpaduan antara pendidikan jasmani, kreativitas, serta penguatan ikatan keluarga, yang semuanya bermuara pada pembentukan karakter anak sejak usia dini.
Melalui kolaborasi ini, HIMPAUDI, IGRA, dan IGABA Parepare tidak hanya menyelenggarakan sebuah acara peringatan, tetapi juga membangun sebuah gerakan moral yang menghidupkan kembali esensi pendidikan anak usia dini: belajar yang berakar pada kegembiraan, kebersamaan, dan nilai-nilai kebangsaan. Setiap gerakan senam yang kompak, setiap potongan kolase yang tersusun, adalah simbol dari masa depan yang ingin kita bangun masa depan di mana anak-anak Parepare tumbuh sebagai generasi yang sehat, kreatif, berkarakter, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.
Salah satu momen yang membangkitkan antusiasme peserta adalah Senam Massal “Anak Indonesia Hebat”. Senam ini dirancang dengan gerakan sederhana, ceria, dan energik yang sesuai dengan perkembangan fisik anak usia dini. Namun, di balik kesederhanaannya, senam ini memuat nilai pembelajaran penting. Gerakan senam yang dilakukan bersama-sama mengajarkan kebersamaan, karena anak-anak bergerak serentak mengikuti irama yang sama. Mereka belajar kekompakan, sebab setiap gerakan menuntut koordinasi yang rapi antara teman-teman di sebelahnya. Semangat pantang menyerah tercermin ketika mereka terus mengikuti irama meski mulai lelah. Lebih dari itu, senam ini menumbuhkan rasa percaya diri—anak-anak berani tampil di hadapan banyak orang dan merayakan tubuh sehat mereka dengan gembira.
Intisari dari Senam Anak Indonesia Hebat adalah membangun anak yang sehat, ceria, percaya diri, dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Setiap gerakan adalah simbol optimisme menuju masa depan, seolah mengirim pesan bahwa anak Indonesia siap tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan berprestasi.
Selain senam massal, Lomba Kolase Kerjasama Ibu dan Anak menjadi kegiatan yang penuh makna. Proses menyusun kolase bukan sekadar merangkai potongan kertas warna warni untuk ditempelkan pada menu gambar untuk mendapatkan gambar yang indah, tetapi juga melatih keterampilan motorik halus, mengasah daya cipta, dan menumbuhkan kesabaran anak. Bagi orang tua, khususnya ibu, kegiatan ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat ikatan emosional, melatih komunikasi yang positif, dan menanamkan nilai kebersamaan. Saat ibu dan anak duduk berdampingan, berdiskusi tentang bentuk dan warna, lalu bersama-sama menempel potongan demi potongan, sesungguhnya mereka sedang membangun kenangan berharga yang akan melekat seumur hidup kenangan yang kelak menjadi fondasi rasa percaya diri dan kehangatan hubungan dalam keluarga.
Lebih dari itu, lomba kolase ini menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan anak usia dini adalah kolaborasi yang harmonis antara keluarga dan lingkungan belajar. Anak mendapatkan ruang untuk mengekspresikan imajinasi, sementara orang tua belajar kembali menjadi pendamping yang sabar, mendukung, dan penuh kasih. Dari kegiatan sederhana inilah tumbuh generasi yang tidak hanya terampil secara kognitif, tetapi juga memiliki kekuatan emosional dan sosial yang akan menjadi modal utama dalam membangun Indonesia Emas 2045.
HIMPAUDI Kota Parepare, sebagai mitra strategis Bunda PAUD Kota Parepare dengan mitra lainnya seperti IGRA Kota Parepare dan IGABA Kota Parepare, menunjukkan komitmennya untuk mendukung program-program penguatan pendidikan anak usia dini. Dukungan ini diwujudkan dalam program yang menyentuh langsung kebutuhan anak dan keluarga. Melalui salah satu kegiatan seperti Merdeka Bermain, Bahagia Belajar, HIMPAUDI membangun sinergi antara pendidik, orang tua, dan pemerintah daerah. Langkah ini sejalan dengan visi Parepare Terbaik, Sejahtera, Maju, di mana pembangunan sumber daya manusia dimulai dari pondasi yang kokoh sejak usia dini. Anak-anak yang tumbuh dalam suasana belajar yang merdeka dan membahagiakan akan memiliki kecerdasan utuh: intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan generasi yang unggul, kompetitif, berkarakter, dan berdaya saing global. Target ini hanya mungkin tercapai jika kita menyiapkan anak-anak kita sejak dini. Usia dini adalah masa kritis yang tidak bisa diulang. Kualitas pendidikan pada fase ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dengan memberikan ruang bermain yang merdeka, kegiatan kreatif yang melibatkan keluarga, serta pembelajaran kebersamaan melalui kegiatan seperti senam massal, kita sedang menanam benih generasi emas yang kokoh, berkarakter, dan cinta tanah air.
Oleh karena itu, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini mulai dari menyediakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan, memberi kesempatan anak bereksplorasi, hingga menanamkan nilai kebersamaan sesungguhnya adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan, karakter, dan rasa cinta tanah air akan menjadi pemimpin yang bijak, warga negara yang bertanggung jawab, dan inovator yang membawa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa besar di dunia pada tahun 2045 nanti.
Kita tidak bisa membentuk generasi emas hanya dengan buku pelajaran dan nilai ujian. Generasi emas lahir dari anak-anak yang tumbuh bahagia, merasa dicintai, sehat jasmani-rohani, dan memiliki ruang luas untuk berimajinasi serta berkarya. Setiap senyum mereka adalah cahaya harapan, setiap tawa mereka adalah energi kemajuan, dan setiap langkah kecil mereka adalah pijakan menuju Indonesia yang lebih baik.
Menjaga senyum dan tawa anak-anak adalah tugas mulia yang harus dipikul bersama oleh orang tua, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat. Saat kita memberikan mereka kasih sayang, kesempatan untuk mencoba, serta dukungan tanpa syarat, kita sesungguhnya sedang menulis masa depan bangsa dengan tinta harapan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan positif akan membawa nilai-nilai itu ke masa depan, menjadi generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga berempati, berintegritas, dan siap mengabdikan diri untuk kemajuan agama, bangsa, dan negara.
Melalui kegiatan Merdeka Bermain, Bahagia Belajar, kita telah mengajarkan kepada anak-anak arti kebersamaan, semangat, dan cinta tanah air. Namun tugas kita tidak berhenti di sini. Tugas kita adalah menjaga agar semangat itu tetap hidup di rumah, di sekolah, dan di seluruh lingkungan tempat mereka bertumbuh. “Anak-anak adalah surat cinta yang kita kirimkan kepada masa depan. Mari kita tulis surat itu dengan kata-kata terbaik, tinta kasih sayang, dan bahasa harapan, agar kelak mereka membacanya dan tahu: mereka lahir dari bangsa yang mencintai mereka sepenuh hati.”
Jika semangat kebersamaan, keceriaan, dan cinta tanah air ini terus kita rawat, maka kita sedang memastikan bahwa setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial. Mereka akan menjadi generasi yang tidak hanya mewarisi kemerdekaan, tetapi juga mampu mengisinya dengan karya, prestasi, dan kontribusi yang berarti. Dari tangan-tangan kecil inilah, masa depan Indonesia Emas 2045 akan dibentuk—masa depan yang kita harapkan penuh cahaya, sejahtera, dan membanggakan di mata dunia.
Harapan besar itu hanya dapat terwujud jika setiap pihak orang tua, pendidik, pemerintah, dan Masyarakat berjalan seiring dalam memelihara dan membimbing tumbuh kembang anak sejak usia dini. Setiap dukungan yang kita berikan, sekecil apa pun, adalah batu bata yang menyusun bangunan peradaban bangsa. Dengan sinergi yang kokoh dan komitmen yang teguh, kita bukan hanya mempersiapkan anak untuk menghadapi masa depan, tetapi juga membentuk masa depan itu sendiri menjadi lebih gemilang. Jika kita konsisten menanam benih kebahagiaan, karakter, dan cinta pada tanah air di hati anak-anak kita hari ini, maka di tahun 2045 nanti kita akan menyaksikan panen generasi emas generasi yang membawa Indonesia menjadi bangsa yang terbaik, sejahtera, dan maju di mata dunia.
Semoga setiap langkah yang kita tempuh hari ini dalam mendidik, membimbing, dan mencintai anak-anak menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Indonesia Emas 2045. Harapan kita sederhana namun mulia: melihat mereka tumbuh sebagai generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mencintai bangsanya dengan sepenuh hati. Dari senyum mereka, kita temukan semangat untuk terus berjuang; dari mimpi mereka, kita temukan alasan untuk terus berkarya; dan dari keberhasilan mereka kelak, kita akan melihat wujud nyata dari cinta kita pada tanah air.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing langkah kita dalam mendidik dan membesarkan generasi penerus bangsa. Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, penuh cinta pada agama, bangsa, dan negara. Lapangkan jalan mereka menuju masa depan yang penuh keberkahan, jadikan mereka pemimpin yang amanah, serta insan yang memberi manfaat bagi sesama. Amin ya Rabbal ‘alamin.












