Bone — Gerak Jalan Santai Kerukunan dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2026 akan menjadi pengalaman istimewa bagi ribuan peserta. Kegiatan ini menempuh rute sejauh 5 kilometer, yang dimulai dan berakhir di Lapangan Merdeka Watampone, Rabu (7/1/2026) pagi, sekaligus mengajak peserta menyusuri ruang kota yang sarat sejarah dan makna persatuan.
Lapangan Merdeka bukan sekadar titik start dan finish. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai alun-alun Kerajaan Bone ini menyimpan jejak penting perjalanan sejarah daerah. Pada awal tahun 1950, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, pernah berkunjung secara khusus ke Kerajaan Bone untuk mengajak Raja Bone terakhir, Andi Mappanyukki, bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ajakan tersebut belum langsung disetujui, karena sang raja memilih menjunjung tinggi kehendak rakyatnya.
Sejarah mencatat, tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 1957, sekitar 3.000 orang sebagai representasi rakyat Bone berkumpul di alun-alun kerajaan tersebut. Dengan cara yang santun dan beradab, mereka menyampaikan aspirasi agar Kerajaan Bone bergabung dengan NKRI. Alun-alun bersejarah itulah yang kini dikenal sebagai Lapangan Merdeka Watampone, simbol kebersamaan, musyawarah, dan persatuan rakyat Bone.
Kini, Lapangan Merdeka telah menjadi alun-alun Kota Watampone yang terletak di pusat kota, tepat di depan rumah jabatan Bupati Bone. Setelah menjalani revitalisasi, kawasan ini tampil lebih indah, nyaman, dan representatif sebagai ruang publik. Di sore hingga malam hari, lapangan ini selalu ramai oleh aktivitas masyarakat, dengan pencahayaan yang mempercantik suasana kota.
Bagi peserta gerak jalan santai, Lapangan Merdeka juga menawarkan berbagai daya tarik visual. Di kawasan ini terdapat taman bunga dengan Patung Arung Palakka, tokoh besar yang menjadi simbol kejayaan dan identitas masyarakat Bone. Tak jauh dari situ, terdapat pula Tana Bangkalae, sebuah situs bersejarah penting yang dikenal sebagai lokasi pelantikan raja-raja Bone serta simbol perdamaian tiga kerajaan besar Bugis: Bone, Luwu, dan Gowa. Tana Bangkalae memiliki makna filosofis penyatuan tanah dari ketiga wilayah tersebut dalam satu wadah yang melahirkan warna jingga (bangkala), sebagai lambang persatuan dan harmoni.
Dari Lapangan Merdeka, peserta gerak jalan santai akan menyusuri rute 5 kilometer melewati sejumlah jalan utama kota, sebelum akhirnya kembali ke titik awal. Rute ini tidak hanya menghadirkan lintasan yang aman dan nyaman, tetapi juga memperlihatkan wajah Kota Watampone sebagai kota yang hidup, ramah, dan menjunjung tinggi nilai sejarah serta keberagaman.
Gerak Jalan Santai Kerukunan ini merupakan bagian dari rangkaian besar HAB ke-80 Kementerian Agama RI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, yang mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, dan diperkirakan akan diikuti sekitar 38 ribu peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Dengan menjadikan Lapangan Merdeka—ruang sejarah dan persatuan—sebagai awal dan akhir perjalanan, Gerak Jalan Santai HAB ke-80 Kementerian Agama tidak hanya mengajak peserta melangkah sejauh 5 kilometer, tetapi juga menapaki nilai-nilai kerukunan, kebangsaan, dan kearifan lokal yang menjadi fondasi Indonesia yang damai dan maju.












