BONE – Nama Ketua Perindo Bone, Andi Sainal Arifin, menjadi sorotan
Pasca pelaksanaan konstatering (pencocokan objek sengketa) lahan di Jalan Andi Pangeran, Kelurahan Masumpu, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan yang berujung ricuh pada Rabu (10/6/2026) lalu.
Arman seorang warga setempat, menduga Andi Sainal Arifin merupakan donatur pihak penggugat dalam sengketa yang telah berlangsung sejak 2010.
Ia juga menilai kehadiran Sainal menjadi salah satu penyebab upaya damai kedua belah pihak belum membuahkan hasil.
“Sudah lama disebut-sebut sebagai donatur penggugat. Saat pertemuan di Aula Polres Bone tanggal 3 Juni lalu, beliau juga sempat hadir sebelum keluar lewat pintu belakang,” kata Arman, Selasa (16/6/2026).
Arman mengaku mediasi telah beberapa kali dilakukan, namun menurutnya selalu berakhir tanpa kesepakatan. Ia juga menyebut beredar informasi bahwa istri baru Sainal diduga ikut mendanai perkara tersebut.
Namun, Arman tidak menunjukkan bukti maupun dasar atas informasi yang ia sampaikan.
Dalam pertemuan mediasi di Aula Polres Bone, Arman mengaku sempat menyampaikan pandangannya di hadapan peserta mediasi.
“Saya bilang, di dalam ruangan ini tidak ada lawan kami. Satu-satunya lawan kami adalah Sainal Arifin. Ahli waris penggugat hanya diperbodoh,” ujarnya.
Saat dikonfirmasi wartawan, Andi Sainal Arifin membantah tudingan bahwa dirinya maupun istrinya menjadi donatur dalam perkara tersebut.
“Tidak ada itu donatur. Perkara ini sudah inkrah di Mahkamah sejak puluhan tahun lalu,” kata Andi Sainal.
Ia membenarkan sempat menghadiri pertemuan mediasi yang digelar di Aula Polres Bone. Namun, menurutnya, kehadirannya tidak berkaitan dengan perkara tersebut.
Andi Sainal juga menyayangkan nama keluarganya, termasuk istrinya, ikut disebut dalam polemik itu. Menurutnya, keluarganya sama sekali tidak memiliki kaitan dengan sengketa yang sedang berlangsung.
Diketahui, Pengadilan Negeri Watampone menggelar konstatering objek sengketa pada Rabu (10/6). Kegiatan itu diwarnai aksi penolakan warga hingga terjadi bentrokan.
Akibat insiden tersebut, tiga warga dilaporkan mengalami luka.
Arman mengaku terkena tabung gas air mata di pelipis kiri, Emil mengalami sesak napas akibat terdampak gas air mata, sedangkan Abdul mengalami luka di tangan kanan dan sempat menjalani operasi di RS Tenriawaru Bone.












