News  

Material Talud Proyek Jalan Rp16,5 Miliar di Bone Disorot, BMCKTR Bantah Gunakan Batu Kapur

Dokumentasi pondasi talud pada proyek rehabilitasi ruas jalan Cirowali–Melle, kabupaten Bone

BONE – Material batu yang digunakan pada proyek rehabilitasi jalan senilai Rp16,5 miliar di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan, Senin (06/07/2026).

Secara kasat mata, batu yang digunakan pada pasangan talud penahan tanah tampak berwarna putih kekuningan dengan tekstur kasar sehingga memunculkan dugaan bahwa material tersebut merupakan batu gamping atau batu kapur.

Di sekitar lokasi pekerjaan juga terlihat sisa material berupa campuran tanah urug dan pecahan batu dengan warna serupa. Material tersebut diduga merupakan sisa batu yang digunakan untuk pasangan talud.

Sorotan muncul karena talud dibangun di sepanjang ruas jalan yang melintasi kawasan persawahan. Kondisi tanah di lokasi cenderung jenuh air dan pada waktu tertentu dapat tergenang sehingga membutuhkan material yang memiliki ketahanan terhadap kelembapan.

Secara umum, batu kapur dikenal memiliki karakteristik lebih lunak dibandingkan batuan keras. Dalam kondisi yang terus-menerus terpapar air atau lumpur, material tersebut berpotensi mengalami pelapukan lebih cepat. Namun, hingga saat ini belum ada hasil uji laboratorium yang memastikan jenis batu yang digunakan pada proyek tersebut.

Berdasarkan papan informasi proyek, rehabilitasi jalan tersebut dibiayai melalui APBD yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2026 dengan pagu anggaran Rp16,5 miliar. Salah satu ruas yang dikerjakan ialah Cirowali–Melle oleh kontraktor pelaksana PT Ridwan Jaya Lestari dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender.

Menanggapi dugaan tersebut, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas BMCKTR Bone, Jumran, membantah material yang digunakan merupakan batu kapur.

“Bukan batu kapur itu. Secara fisik masih kelihatan kuat dan keras. Batu itu baru bisa pecah kalau menggunakan alat breaker,” kata Jumran saat dikonfirmasi wartawan, Senin (6/7/2026).

Menurutnya, warna batu tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menentukan jenis material.

“Jangan tertipu dengan warna. Kadang ada batu yang permukaannya terlihat putih, tetapi sebenarnya masih keras,” ujarnya.

Ia juga mengatakan batu dengan karakteristik serupa digunakan pada sejumlah proyek jalan nasional.

“Batu seperti itu juga dipakai di jalan nasional,” katanya.

Meski demikian, penggunaan material pada proyek tersebut tetap menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis, mengingat talud dibangun di kawasan dengan tingkat kelembapan tinggi.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada hasil pengujian laboratorium yang memastikan jenis batu yang digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *