News  

Kepala SMPN 5 Watampone Klarifikasi Soal Keberadaan di Paris, Ternyata Terlibat Delegasi Budaya

Reny Sulastri Nurdin

BONE – Kepala SMP Negeri 5 Watampone, Reny Sulastri Nurdin, memberikan klarifikasi terkait keberadaannya di Paris, Prancis, setelah sebelumnya muncul pemberitaan yang mempertanyakan aktivitasnya sejak dilantik sebagai kepala sekolah.

Reny menjelaskan, keberangkatannya ke Prancis bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan bagian dari keterlibatannya dalam Delegasi Budaya Indonesia pada rangkaian kegiatan diplomasi budaya Indonesia di Prancis tahun 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Reny dipercaya menjadi salah satu pemeran dalam Drama Tari I La Galigo, Batara Guru, Jejak Langit di Bumi. Ia memerankan tokoh We Nyiliq Timoq, salah satu karakter dalam pertunjukan tersebut.

Direktur Teknis Delegasi Budaya Indonesia di Prancis, Muhammad Aulia Rakhmat, turut memberikan penjelasan mengenai keterlibatan Reny.

“Sehubungan dengan kehadiran Reny Sulastri Nurdin dalam Delegasi Budaya Indonesia pada rangkaian kegiatan diplomasi budaya di Prancis tahun 2026, kami menyampaikan klarifikasi bahwa kehadiran yang bersangkutan merupakan bagian dari kebutuhan pelaksanaan program Diplomasi Budaya Indonesia, khususnya dalam mendukung pertunjukan Drama Tari I La Galigo serta pertunjukan tari tradisi Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Menurut Reny, keterlibatannya dalam delegasi tersebut merupakan bagian dari kebutuhan produksi pertunjukan.

“Dalam rangkaian kegiatan tersebut, saya berperan sebagai pemeran karakter We Nyiliq Timoq dalam Drama Tari I La Galigo, Batara Guru, Jejak Langit di Bumi. Setiap anggota delegasi dipilih berdasarkan kebutuhan produksi dan memiliki tanggung jawab masing-masing, baik dalam aspek artistik maupun pelaksanaan kegiatan selama rangkaian pertunjukan di Prancis,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan tersebut membawa karya budaya Sulawesi Selatan ke sejumlah kota di Prancis dan mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Reny Jelaskan Soal Pelantikan dan SK

Reny juga meluruskan persoalan waktu pelantikan dirinya sebagai kepala sekolah dengan keberangkatannya ke Prancis.

Ia menyebut, saat selesai dilantik, dirinya belum mengetahui secara pasti sekolah yang akan menjadi tempat penugasannya.

“Saat selesai dilantik, kami belum mengetahui penempatan sekolah mana, walaupun sudah ada beberapa informasi yang beredar. Surat Keputusan pun baru keluar saat saya sudah berada di Prancis,” ungkapnya.

Terkait perizinan, Reny menyatakan seluruh proses telah ditempuh melalui mekanisme kedinasan.

“Mulai dari surat permintaan partisipasi dari pihak pengelola produksi, proses pembahasan dengan pimpinan, hingga terbitnya surat dinas luar yang saya peroleh melalui Dinas Pendidikan,” katanya.

Bantah Tak Pernah Bertugas di Sekolah

Reny juga membantah informasi yang menyebut dirinya sama sekali belum pernah menjalankan tugas di SMPN 5 Watampone sejak dilantik.

Ia mengaku telah berkunjung ke sekolah dan melakukan pembagian tugas sebelum menjalankan rangkaian kegiatan di Prancis.

“Saya ingin meluruskan, saya sudah pernah berkunjung ke sekolah dan melaksanakan pembagian tugas,” tegasnya.

Selama berada di luar daerah dan luar negeri, Reny mengatakan tanggung jawab operasional sekolah tetap dikoordinasikan oleh Wakasek Kurikulum yang sebelumnya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Harian (Plh).

“Selama saya tidak berada di tempat, tanggung jawab saya titipkan kepada Wakasek Kurikulum yang sebelumnya menjabat sebagai PLH,” jelasnya.

Ia juga mengaku tetap memantau perkembangan sekolah melalui komunikasi dengan jajaran guru.

“Segala program dan kegiatan sekolah tetap saya pantau melalui grup WhatsApp dan komunikasi telepon dengan para guru yang saya percaya dapat memikul tanggung jawab,” tambahnya.

Melalui pesan WhatsApp, Reny kembali menegaskan bahwa aktivitas di SMPN 5 Watampone tetap berjalan selama dirinya mengikuti kegiatan di Prancis.

“Selama saya tidak ada di tempat, kegiatan di SMPN 5 tetap berjalan kondusif berkat kerja sama dan tanggung jawab seluruh guru di bawah koordinasi Ibu Hanatang selaku Wakasek,” tambahnya.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, keberadaan Reny di Prancis disebut berkaitan dengan keterlibatannya dalam delegasi budaya Indonesia.

Sementara itu, terkait detail administrasi penugasan dan perjalanan dinas tersebut, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut dari Plt Dinas Pendidikan Kabupaten Bone.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *