Biasanya kalau dengar kata “burung hantu,” yang terbayang itu suasana horor atau film detektif malam hari. Tapi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), burung hantu justru direkrut jadi tim khusus pengendali hama sawah. Iya, serius. Gratis pula. Tanpa perlu gaji, BPJS, atau potong PPh 21.
Namanya program ini: KAMPUNG RUBUHA—Rumah Burung Hantu. Dan seperti nama uniknya, inovasinya juga tak kalah nyeleneh: menangkal serangan tikus sawah pakai… burung hantu. Kalau biasanya petani buru-buru beli racun atau manggil pawang tikus, di Sidrap mereka malah bangunin rumah buat hewan malam yang satu ini.
Latar Belakangnya Nggak Main-main
Kita ngomongin daerah penghasil padi utama di Sulawesi Selatan. Tapi sayangnya, dari 31.636 ton produksi padi di 2017, turun drastis jadi cuma 19.870 ton di 2020. Salah satu biangnya? Tikus! Makhluk berbulu yang entah kenapa selalu bisa selamat dari jebakan dan kampanye musiman. Tapi untunglah, muncul solusi dari langit—secara harfiah.
Dan lahirlah gagasan cerdas ini berkat tim inovatif yang dipimpin oleh Yanto Arbanu yang sadar bahwa solusi ampuh nggak selalu harus datang dari laboratorium mahal. Kadang cukup dari… pepohonan dan atap rumah mini burung hantu.
Apa Sih Istimewanya RUBUHA Ini?
✔️ Ramah lingkungan – nggak ada pestisida, racun tikus, atau limbah berbahaya.
✔️ Efisien – cukup 1 burung hantu bisa makan 5–10 tikus per malam. Jadi kalau ada 8 rumah burung hantu, tinggal hitung sendiri berapa “tenaga kerja” yang mereka punya.
✔️ Murah Meriah – begitu rumah dipasang, burungnya tinggal datang, tinggal, dan bekerja tanpa demo atau cuti tahunan.
✔️ Skalabel – satu rumah burung hantu bisa lindungi 4–5 hektare sawah. Cocok untuk program skala desa hingga provinsi.

Ternyata Bisa Bikin Panen Naik Drastis
Sebelum ada RUBUHA? Panen cuma 38,18 ton. Setelahnya? Naik jadi 45,65 ton. Serangan tikus? Dari 2-3 kali per musim tanam turun jadi 0-1 kali saja. Jumlah penyuluhan? Dari nol besar jadi 144 sesi. Tikus pun terintimidasi.
Dan semua ini nyambung banget dengan SDG nomor 2 (Zero Hunger) dan SDG nomor 15 (Life on Land). Bayangkan, ini solusi pangan yang sekaligus melindungi biodiversitas. Petani kenyang, lingkungan senang, dan burung hantu punya tempat tinggal tetap.
Inovasi Lokal, Dampaknya Nasional
KAMPUNG RUBUHA sudah dibangun di dua desa: Polewali dan Teteaji. Tapi kabar baiknya: inovasi ini sangat mungkin direplikasi. Biayanya nggak mahal, teknologinya sederhana, dan hasilnya sangat terasa. Bahkan kelompok tani dari daerah lain mulai berdatangan untuk studi tiru. Tikus lokal pun mulai was-was kalau inovasi ini ngetren nasional.
Dukungan dari berbagai instansi—dinas pertanian, pemerintahan desa, hingga akademisi—membuat program ini bukan cuma proyek musiman. Ini sudah masuk rencana pembangunan, punya SOP, dan ada monitoring rutin berbasis kuesioner ke petani. Bahkan kampanye edukasinya pun dikawal lewat media sosial dan sekolah lapang.
Penutup: Burung Hantu, Tikus, dan Petani yang Tak Lagi Sendiri
Siapa sangka, di tengah dunia yang sibuk bikin aplikasi pertanian berbasis AI dan sensor satelit, ternyata rumah burung hantu bisa lebih efektif untuk urusan mendesak seperti gagal panen?
Inovasi KAMPUNG RUBUHA adalah bukti bahwa solusi lokal, kalau dilakukan serius dan terstruktur, bisa mengalahkan masalah lama yang tak kunjung selesai. Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, TikTok penuh video burung hantu kerja lembur di sawah.












