Bayangkan kamu punya luka di kaki. Tapi karena diabetes dan dianggap sepele, eh… ujung-ujungnya kaki harus diamputasi. Serem? Banget. Tapi faktanya, itu bukan cerita sinetron. Itu kenyataan yang dialami ribuan orang tiap tahun. Dan kabar buruknya: sebagian besar sebenarnya bisa dicegah.
Kabar baiknya? Di Kabupaten Sidenreng Rappang, ada inovasi keren yang hadir dengan gaya “nggak pakai ribet tapi tepat sasaran”. Namanya: CEGAT DENGAN PEKA – singkatan dari Cegah dan Deteksi Dini Amputasi Diabetes dengan Perawatan Kaki.
Tunggu, Inovasi Perawatan Kaki? Serius?
Iya, serius. Inovasi ini bukan tentang alat canggih atau rumah sakit futuristik. Ini tentang perawatan dasar yang sering terlupakan: pemilihan alas kaki, senam kaki diabetes, dan foot spa (iya, beneran spa buat kaki!). Dan lucunya, tiga hal ini justru berdampak besar—lebih besar dari janji-janji manis seminar bertema “Kesehatan Adalah Investasi”.
Program ini digagas oleh Ilyas Agus, perawat berdedikasi tinggi dari RSUD Nene Mallomo. Dia melihat kenyataan pahit di rumah sakit: banyak pasien diabetes datang bukan untuk dicek gula darah, tapi udah dalam kondisi luka parah. Bahkan harus diamputasi. Miris, kan?
Daripada cuma geleng-geleng kepala tiap lihat kasus begitu, Ilyas langsung ambil langkah. Dan lahirlah CEGAT DENGAN PEKA.
Apa yang Bikin Ini Beda dari Edukasi Biasa?
✔️ Edukasi soal pemilihan alas kaki yang benar. Serius, sepatu sempit itu bukan cuma menyakitkan, tapi bisa berujung fatal buat penderita diabetes.
✔️ Senam kaki diabetes yang nggak perlu gym membership. Cuma perlu niat dan rutin sedikit, manfaatnya luar biasa.
✔️ Foot Spa – bukan buat gaya-gayaan, tapi sebagai bentuk early intervention mencegah luka jadi bencana.
Program ini sudah diterapkan bukan cuma di rumah sakit, tapi juga ke puskesmas dan klinik lewat kegiatan PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Bahkan ada edukasi langsung di ruang tunggu rumah sakit. Jadi, sambil nunggu antrean, bisa belajar jaga kaki. Multitasking level pro!
Hasilnya Gimana? Jangan Kaget…
📉 Jumlah pasien dengan luka diabetes turun.
📉 Jumlah amputasi menurun dari 152 jadi 28 orang. Ini bukan sulap, tapi hasil dari perhatian yang (selama ini) kurang populer: perawatan kaki.
📈 Pelatihan dan sosialisasi makin rutin. Bahkan sudah ada pasien yang rutin ikut foot spa preventif.
Dan semua ini selaras banget dengan SDG Nomor 3: Menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua usia. Jadi bukan cuma gaya-gayaan ikut agenda global, tapi benar-benar dibumikan dan dilaksanakan.
Kenapa Ini Layak Dilirik (dan Ditiru)?
Karena inovasi ini murah, logis, dan masuk akal. Tidak pakai jargon teknis membingungkan. Tidak butuh alat miliaran. Cukup sepatu yang pas, spa sederhana, dan komitmen untuk edukasi.
Dan ini bukan proyek dadakan. Sudah masuk dalam strategi berkelanjutan RSUD Nene Mallomo, lengkap dengan SOP, pelatihan rutin, dan dukungan dari direktur sampai tenaga fungsional. Bahkan Ilyas sudah jadi narasumber di berbagai forum kesehatan nasional. Dari seminar hingga “pesantren luka” (ya, benar, istilahnya gitu), semua dijabanin demi edukasi.
Penutup: Kaki Itu Berharga, Jangan Sampai Terlambat
Kita terlalu sering baru panik saat terlambat. Inovasi CEGAT DENGAN PEKA hadir bukan untuk jadi pahlawan, tapi untuk menyadarkan kita: bahwa hal kecil bisa mencegah hal besar. Dan, hey—kalau bisa dicegah, ngapain harus diamputasi?












