BONE – Musibah angin puting beliung yang melanda Desa Mico, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, pada Rabu (18/3/2026), masih menyisakan duka mendalam bagi warga yang terdampak. Di balik puing-puing rumah yang berserakan, tersimpan harapan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.
Belasan rumah dilaporkan terdampak dalam peristiwa tersebut. Dua di antaranya mengalami kerusakan paling parah. Rumah milik Andi Aco kehilangan atap hingga kini belum lagi layak dihuni, sementara rumah milik Wewe bahkan rata dengan tanah, menyisakan kenangan yang kini hanya tinggal cerita.
Peristiwa itu tak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengguncang batin para korban. Rasa panik dan trauma masih membekas, terutama bagi keluarga yang kehilangan tempat berteduh.
Hingga saat ini, keluarga korban mengaku belum merasakan perhatian serius. Di tengah keterbatasan ekonomi, kondisi tersebut semakin memperberat beban yang mereka pikul.
Diketahui, Andi Aco dan Wewe sehari-hari bekerja serabutan, dengan penghasilan yang tidak menentu, sehingga upaya memperbaiki rumah menjadi hal yang sulit diwujudkan tanpa bantuan.
Meski demikian, sejumlah bantuan sempat datang. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu menjawab kebutuhan utama para korban, yakni membangun kembali tempat tinggal yang layak.
Abdul, kerabat korban, menuturkan bantuan yang diberikan lebih banyak bersifat sementara.
“Kemarin ada yang datang bawa bantuan berupa paket sembako, kami tentu bersyukur. Tapi itu hanya cukup untuk kebutuhan beberapa hari. Sementara rumah mereka masih belum bisa ditempati,” ungkapnya, Selasa (7/4/2026).
Ia berharap adanya perhatian lebih lanjut, khususnya dalam bentuk bantuan pembangunan atau perbaikan rumah, agar keluarga yang terdampak bisa segera bangkit dari kondisi yang sulit.
“Sebagai kerabat, kami sangat prihatin. Kami juga terdampak, jadi tidak bisa banyak membantu. Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah, bukan hanya bantuan sesaat, tapi solusi nyata agar mereka bisa kembali punya rumah,” tegasnya.












