Sidrap Masuk Nominasi Lima Besar SDGs Action Award 2026, Tim Verifikator Tinjau Program Listrik Masuk Sawah

SIDRAP — Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) masuk dalam nominasi lima besar Indonesia SDGs Action Award 2026 kategori pemerintah daerah kabupaten melalui program unggulan Listrik Masuk Sawah, sebuah inovasi pembangunan pertanian berkelanjutan yang diinisiasi oleh Bupati Sidenreng Rappang.

Rangkaian verifikasi program tersebut dilaksanakan pada Jumat, 6 November 2026, melalui pemaparan program oleh Bupati Sidenreng Rappang di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan lapangan di dua lokasi, yakni Tanete dan Takkalasi, Kecamatan Maritengngae.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses penilaian Indonesia SDGs Action Award 2026. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang melalui Bapperida telah mengundang para pemangku kepentingan untuk mengikuti kunjungan lapangan program unggulan SDGs Kabupaten Sidenreng Rappang menuju Indonesia SDGs Action Award pada Jumat, 6 November 2026.

Dalam proses verifikasi, empat orang verifikator dari Surveyor Indonesia hadir sebagai tim verifikasi independen yang menjadi mitra Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI. Tim tersebut melakukan pendalaman terhadap substansi program, capaian, dampak, keberlanjutan, serta kesesuaian inovasi dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Listrik Masuk Sawah, Solusi Energi untuk Pertanian Berkelanjutan

Program Listrik Masuk Sawah lahir dari persoalan nyata yang dihadapi sektor pertanian Sidrap. Sebagai salah satu daerah sentra pangan di Sulawesi Selatan, Sidrap memiliki potensi lahan sawah yang luas. Namun, sebagian wilayah pertanian, khususnya lahan kering/nonrawa dan sawah tadah hujan, menghadapi persoalan keterbatasan ketersediaan air.

Materi program mencatat bahwa dari potensi sawah sekitar 51.389 hektare, sebagian merupakan sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan lahan sawah rawa. Ketergantungan terhadap curah hujan membuat sebagian wilayah pertanian menghadapi tantangan keberlanjutan produksi, terutama ketika terjadi musim kemarau panjang dan fenomena El Niño.

Di sisi lain, penggunaan mesin pompa berbahan bakar fosil juga menimbulkan persoalan biaya. Materi program menunjukkan bahwa operasional pompa selama 24 jam sebelumnya dapat membutuhkan sekitar 12 liter Pertalite atau tiga tabung gas, sedangkan penggunaan listrik melalui token dapat menekan biaya menjadi sekitar Rp50.000, dibandingkan Rp120.000 untuk Pertalite atau Rp75.000 menggunakan tabung gas. Efisiensi biaya yang ditunjukkan dalam materi mencapai sekitar 50–140 persen, tergantung sumber energi yang digunakan.

Karena itu, program Listrik Masuk Sawah dirancang sebagai solusi yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi untuk pompanisasi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menekan biaya produksi petani, dan memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap perubahan kondisi iklim.

Capaian Program Terus Berkembang

Program yang mulai diuji coba pada 2023 di Kelurahan Pajalele, Kecamatan Tellu Limpoe, kemudian diperluas pada 2024 ke sejumlah wilayah, termasuk Takkalasi Kecamatan Maritengngae dan Kelurahan Bangkai Kecamatan Watang Pulu. Program tersebut selanjutnya dikembangkan secara lebih luas melalui penganggaran APBD Kabupaten Sidenreng Rappang dan APBN Kementerian Pertanian.

Dampak program terlihat dari perkembangan produksi padi. Setelah mengalami penurunan pada 2023, produksi padi Sidrap kembali meningkat pada periode berikutnya. Materi program mencatat produksi padi mencapai 569.733 ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2025. Bahkan pada 2026, di tengah tekanan akibat fenomena El Niño dan keterbatasan air, produksi padi hingga September tercatat sekitar 514.672 ton dan diproyeksikan kembali mencapai sekitar 560 ribu ton pada akhir tahun.

Dari sisi ekonomi, program juga dikaitkan dengan percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Materi yang dipaparkan menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sidrap meningkat menjadi 7,71 persen pada 2025, sementara kontribusi lapangan usaha pertanian terhadap perekonomian daerah mencapai 30,21 persen, dengan pertumbuhan year on year sebesar 10,7 persen.

Perluasan manfaat program juga terlihat dari jumlah penerima. Pada 2025, program telah mencakup sekitar 1.000 KWH/meter, dengan 2.203 pengeboran/pompanisasi dan manfaat bagi sekitar 18.000 petani. Selanjutnya, sepanjang Januari–Agustus 2026, program kembali dikembangkan dengan 815 KWH/meter, 815 pengeboran/pompanisasi, serta sekitar 8.650 petani penerima manfaat.

Verifikasi Lapangan di Tanete dan Lakessi

Setelah mendengarkan pemaparan program di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, tim verifikator kemudian turun langsung ke lapangan untuk melihat implementasi program di Tanete dan Takkalasi, Kecamatan Maritengngae.

Bupati Sidenreng Rappang turut mendampingi tim verifikator dalam kunjungan tersebut. Pemeriksaan lapangan dilakukan untuk melihat secara langsung infrastruktur yang telah dibangun, mekanisme pompanisasi, pemanfaatan listrik untuk mendukung aktivitas pertanian, serta manfaat program yang dirasakan oleh petani.

Kunjungan lapangan menjadi bagian penting dari proses verifikasi karena program Listrik Masuk Sawah tidak hanya dinilai dari sisi perencanaan dan dokumen, tetapi juga dari implementasi serta dampak nyata yang dihasilkan di tingkat masyarakat.

Materi program menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan, survei lokasi, perencanaan, pembangunan infrastruktur pengeboran dan pompa, hingga pemasangan jaringan listrik serta monitoring dan evaluasi.

Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Program Listrik Masuk Sawah juga memiliki keterkaitan erat dengan agenda SDGs, khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger). Program diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan kawasan pertanian berkelanjutan, serta penguatan ketahanan pangan.

Program ini juga dibangun melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, antara lain dengan PT PLN (Persero), pemerintah kecamatan dan desa/kelurahan, TNI dan Polri, Badan Pusat Statistik, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah, kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Dari sisi keberlanjutan, program telah diarahkan untuk menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah. Materi program menegaskan keterkaitannya dengan visi dan misi pembangunan daerah serta RPJMD, termasuk agenda pengembangan ekonomi melalui sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Pengembangan titik listrik untuk lahan pertanian juga direncanakan terus dilanjutkan melalui agenda optimalisasi lahan kering/nonrawa.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang, masuknya Listrik Masuk Sawah sebagai nominasi lima besar Indonesia SDGs Action Award 2026 menjadi pengakuan atas upaya menghadirkan inovasi pembangunan yang berangkat dari persoalan masyarakat dan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.

Melalui program tersebut, listrik tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur energi, tetapi menjadi instrumen untuk memperkuat produktivitas pertanian, menekan biaya produksi, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Proses verifikasi yang dilakukan oleh tim independen diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai implementasi, dampak, kolaborasi, dan keberlanjutan program Listrik Masuk Sawah sebagai salah satu praktik pembangunan daerah yang berkesesuaian dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Indonesia SDGs Action Award sendiri merupakan ajang penghargaan yang diselenggarakan oleh Bappenas RI untuk mengapresiasi inisiatif dan praktik pembangunan berkelanjutan yang berkontribusi terhadap pencapaian SDGs di Indonesia.

Dengan masuknya Sidrap dalam nominasi lima besar kategori pemerintah daerah kabupaten, Listrik Masuk Sawah kini tidak hanya menjadi program unggulan daerah, tetapi juga menjadi salah satu inovasi yang diperhitungkan dalam panggung pembangunan berkelanjutan tingkat nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *