Bersikap Asertif: Berani Bilang “Tidak”

Opini Ditulis Oleh Muhammad Haramain (Dosen IAIN Parepare)

Opini, Bocahrakyat.com- Ada yang menarik kalau kita bicara soal kata “asertif”. Bahasa kerennya memang begitu, impor dari Barat. Tapi kalau diterjemahkan ke dalam bahasa orang kita sehari-hari, artinya sederhana saja: berani omong jujur tanpa perlu ngajak berantem.

Mark Manson dalam bukunya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, pernah menulis satu kalimat yang sangat pas untuk hal ini:

“Seseorang yang memiliki batasan yang kuat tidak takut akan timbulnya amarah, argumen, atau perasaan terluka.”

Selama ini, gaya komunikasi kita sering terjebak di dua jalur ekstrem. Jalur pertama: ngalah terus karena tidak enak hati. Pimpinan minta bantu tugas jam 10 malam diiyakan, teman pinjam uang padahal buat tidak penting dikasih. Hasilnya? Batin menderita. Muka tersenyum, tapi hati menggerutu. Ini bukan kebaikan, ini kepalsuan yang dipelihara. Jalur kedua: gas pol, seruduk sana-sini, merasa paling benar, dan tidak peduli perasaan orang. Ini juga bukan tegas, tapi arogan.

Nah, asertif itu berdiri persis di tengah-tengahnya. Orang asertif itu tenang. Dia tahu apa yang dia mau, dia tahu apa yang tidak dia suka, dan dia menyampaikan itu dengan gamblang. Tanpa emosi meledak-ledak, tapi juga tanpa rasa bersalah yang dibuat-buat.

Saya sering melihat orang kalau mau menolak ajakan, susahnya setengah mati. Naskah alasannya panjang sekali, pakai karangan bunga dan permohonan maaf berderet-deret. Padahal makin panjang alasannya, makin kelihatan kalau dia sedang bingung dengan dirinya sendiri.

Manson juga mengingatkan kita dengan sangat lugas:

“Kamu dan hanya kamu yang bertanggung jawab atas apa yang ada di dalam kepalamu. Tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu selain dirimu sendiri.”

Padahal, menjadi asertif itu ringkas. “Mohon maaf, saya tidak bisa.” Selesai. Tidak perlu ditambah narasi fiktif, tidak perlu drama.

Soal orang yang mendengar lalu cemberut? Ya itu urusan dia. Tugas kita hanya menyampaikan sikap kita secara terhormat. Soal suasana hati orang lain setelah mendengar kejujuran kita, itu di luar kendali kita. Kita bukan pemadam kebakaran untuk emosi semua orang.

Banyak orang takut asertif karena takut konflik. Inginnya aman-aman saja, semua senang, semua tersenyum. Tapi coba pikir: memilih diam demi menyenang-nyenangkan orang lain itu sebenarnya cuma menunda bom waktu. Suatu saat pasti meledak juga, dan kalau sudah meledak, rusaknya jauh lebih parah.

Sedikit ketegangan di awal karena kita jujur itu jauh lebih sehat daripada kedamaian palsu yang disimpan bertahun-tahun. Jadi, belajar asertif itu sebenarnya belajar menghargai waktu dan energi sendiri. Hidup ini terlalu pendek kalau habis hanya untuk mengangguk pada hal-hal yang sebenarnya ingin kita gelengkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *