Lombok Pulau Seribu Masjid: Merawat Islam, Menguatkan Karakter, Mencerahkan Pendidikan

Dokumentasi oleh Dr. H. Muhammad Saleh, M. Ag.
Dokumentasi oleh Dr. H. Muhammad Saleh, M. Ag.

Opini ditulis oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag (Dosen IAIN Parepare & Asesor LAMDIK)

Perjalanan akreditasi pada STIT Palapa Nusantara dan STIT Al Aziziyah di Lombok menghadirkan pengalaman akademik yang tidak hanya berhenti pada proses penilaian dokumen, observasi lapangan, dan konfirmasi data kelembagaan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut membuka ruang refleksi tentang hubungan antara pendidikan Islam, identitas keagamaan masyarakat, dan pembentukan karakter umat. Lombok tidak hanya memperlihatkan wajah pendidikan tinggi Islam yang terus berbenah, tetapi juga menunjukkan kekuatan spiritual masyarakatnya melalui keberadaan masjid-masjid yang tampak hidup dalam denyut keseharian.

Lombok memiliki daya tarik yang tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Pantai, perbukitan, budaya Sasak, kawasan wisata Mandalika, serta keramahan masyarakatnya telah menjadikan Lombok sebagai salah satu destinasi penting di Indonesia. Namun, di balik pesona alam dan pariwisata tersebut, Lombok menyimpan kekuatan identitas yang lebih mendalam, yaitu religiusitas masyarakatnya. Tidak berlebihan jika Lombok dikenal luas sebagai Pulau Seribu Masjid, sebuah sebutan yang menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Lombok dengan kehidupan keislaman.

Julukan Pulau Seribu Masjid bukan hanya gambaran tentang banyaknya bangunan masjid yang berdiri di berbagai sudut kota, desa, dan permukiman. Lebih dari itu, julukan tersebut mengandung pesan peradaban bahwa Islam telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Lombok. Masjid hadir bukan semata sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, ruang pendidikan, tempat musyawarah, media penguatan solidaritas sosial, dan simbol kebersamaan. Dari masjid, nilai-nilai keislaman diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kesan tersebut semakin kuat ketika dari beberapa sudut pandang tampak hamparan permukiman masyarakat dengan kubah-kubah masjid yang menyembul di antara rumah-rumah penduduk. Pemandangan ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menghadirkan renungan: di tengah perubahan zaman, modernisasi, dan perkembangan pariwisata, Lombok tetap memiliki akar spiritual yang kokoh. Masjid seakan menjadi penanda bahwa kehidupan masyarakat tidak hanya bergerak dalam urusan ekonomi dan sosial, tetapi juga dituntun oleh nilai ibadah, adab, dan kebersamaan.

Dalam konteks ini, kehadiran lembaga pendidikan Islam seperti STIT Palapa Nusantara dan STIT Al Aziziyah memiliki makna strategis. Lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam tidak hanya bertugas menyelenggarakan proses pembelajaran secara formal, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Islam dalam pembentukan karakter mahasiswa dan masyarakat. Pendidikan Islam idealnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan keagamaan, tetapi harus mampu membentuk pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak, disiplin, peduli, dan bertanggung jawab. Di sinilah pendidikan karakter Islami menemukan relevansinya.

Pendidikan karakter dalam Islam berakar pada pembentukan adab. Seseorang tidak cukup disebut berhasil dalam pendidikan hanya karena mampu menguasai ilmu, meraih nilai tinggi, atau memperoleh gelar akademik. Pendidikan baru bermakna ketika ilmu melahirkan kerendahan hati, ibadah melahirkan kepedulian, dan pengetahuan melahirkan tanggung jawab sosial. Karena itu, lembaga pendidikan Islam di Lombok memiliki peran penting untuk menjaga agar proses pendidikan tetap berpijak pada nilai adab, akhlak, dan pengabdian kepada umat.

Pulau Seribu Masjid seharusnya menjadi Pulau Seribu Karakter. Banyaknya masjid menjadi kebanggaan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi amanah. Masjid-masjid yang berdiri megah perlu diikuti dengan tumbuhnya masyarakat yang berakhlak mulia. Suara azan yang berkumandang dari berbagai penjuru perlu diiringi dengan perilaku sosial yang jujur, santun, peduli, dan saling menghormati. Keindahan bangunan masjid perlu selaras dengan keindahan karakter jamaahnya. Inilah tantangan penting bagi masyarakat muslim di mana pun, termasuk di Lombok.

Dalam sejarah Islam, masjid memiliki fungsi yang sangat luas. Pada masa Rasulullah saw., masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pendidikan, pembinaan akhlak, penguatan ukhuwah, dan penyelesaian persoalan umat. Masjid menjadi ruang tumbuhnya ilmu, kepemimpinan, kepedulian, dan kesadaran sosial. Karena itu, ketika Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, maka pesan yang perlu diperkuat adalah bagaimana masjid dapat terus menjadi pusat pembentukan manusia yang saleh secara spiritual dan bermanfaat secara sosial.

Pendidikan karakter Islami tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah, madrasah, pesantren, atau perguruan tinggi. Ia membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Keluarga, masjid, masyarakat, dan lembaga pendidikan harus bergerak dalam irama yang sama. Jika keluarga menanamkan keteladanan, masjid menguatkan spiritualitas, sekolah dan kampus membangun ilmu, serta masyarakat menghadirkan lingkungan yang sehat, maka karakter generasi akan tumbuh lebih kokoh. Sebaliknya, jika masing-masing berjalan sendiri, pendidikan karakter akan mudah berhenti sebagai slogan.

STIT Palapa Nusantara dan STIT Al Aziziyah dapat menjadi simpul penting dalam ekosistem tersebut. Sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, keduanya memiliki peluang untuk menghubungkan tradisi keilmuan, pembinaan keagamaan, dan kebutuhan zaman. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kecakapan sosial, dan wawasan kebangsaan, tetapi semua itu harus tetap dibingkai oleh nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Pendidikan Islam masa kini harus mampu melahirkan generasi yang religius tanpa tertutup, modern tanpa tercerabut, dan cerdas tanpa kehilangan adab.

Tantangan pendidikan karakter saat ini semakin kompleks. Anak-anak, remaja, dan mahasiswa hidup dalam arus digital yang cepat, terbuka, dan kadang sulit dikendalikan. Mereka menerima informasi dari berbagai sumber, berinteraksi melalui media sosial, dan membentuk pola pikir melalui konten yang mereka konsumsi setiap hari. Dalam situasi seperti ini, pendidikan Islam perlu hadir bukan hanya sebagai nasihat, tetapi sebagai pendampingan yang nyata. Nilai-nilai kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, rasa malu, kepedulian, dan penghormatan kepada orang tua serta guru harus diterjemahkan dalam bahasa kehidupan generasi digital.

Oleh karena itu, masjid, sekolah, kampus, pesantren, dan yayasan pendidikan Islam perlu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Penguatan karakter dapat dilakukan melalui pembiasaan ibadah, keteladanan dosen dan guru, budaya disiplin, program literasi Al-Qur’an, kegiatan sosial, pendampingan remaja, serta penggunaan media digital untuk dakwah edukatif. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan dalam ruang kelas, tetapi harus dihidupkan dalam budaya lembaga. Peserta didik lebih mudah belajar dari apa yang mereka lihat secara konsisten daripada sekadar dari apa yang mereka dengar sesekali.

Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid memiliki modal sosial dan spiritual yang besar untuk menjadi contoh penguatan pendidikan karakter Islami. Ketika masjid, keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat saling menopang, maka identitas religius tidak hanya menjadi kebanggaan simbolik, tetapi berubah menjadi kekuatan transformatif. Islam tidak hanya tampak dalam bangunan, tetapi terasa dalam perilaku. Pendidikan tidak hanya hadir dalam ijazah, tetapi tampak dalam akhlak. Kemajuan tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusia.

Di tengah geliat pembangunan Lombok, termasuk perkembangan sektor wisata dan pendidikan, penting untuk terus menjaga keseimbangan antara kemajuan fisik dan kematangan karakter. Daerah yang maju bukan hanya daerah yang banyak dikunjungi wisatawan, tetapi juga daerah yang masyarakatnya memiliki kepribadian kuat, spiritualitas yang sehat, dan kepedulian sosial yang hidup. Pulau Seribu Masjid akan semakin bermakna jika setiap masjid menjadi pusat kebaikan, setiap lembaga pendidikan menjadi pusat pencerahan, dan setiap generasi muda tumbuh sebagai pembawa nilai Islam yang damai, cerdas, dan beradab.

Akhirnya, Lombok mengajarkan bahwa identitas religius adalah amanah yang perlu dirawat. Pulau Seribu Masjid bukan sekadar julukan, melainkan panggilan untuk terus memakmurkan masjid, menguatkan pendidikan Islam, dan membentuk karakter generasi. Dari perjalanan akreditasi pada STIT Palapa Nusantara dan STIT Al Aziziyah, tampak bahwa pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga mutu, merawat adab, dan menjawab kebutuhan zaman. Dari Lombok, kita belajar bahwa cahaya Islam akan semakin indah ketika ia tidak hanya bersinar dari kubah dan menara, tetapi juga memancar dari akhlak manusia, budaya pendidikan, dan kepedulian sosial.

DokuSemoga STIT Palapa Nusantara, STIT Al Aziziyah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya di Lombok terus menjadi bagian dari gerakan besar mencerdaskan umat, merawat adab, dan menanamkan karakter Islami. Semoga Pulau Seribu Masjid tetap menjadi ruang tumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi zaman dengan cahaya Islam yang mencerahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *