Jakarta – Indonesia sedang menikmati euforia transformasi digital.
Pemerintah mendorong investasi kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), pusat data (data center), hingga ekonomi digital yang diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan nasional pada dekade mendatang.
Di tengah optimisme tersebut, muncul satu fakta yang mulai mendapat perhatian dunia: perkembangan data center ternyata tidak hanya membutuhkan investasi dan listrik dalam jumlah besar, tetapi juga air dalam volume yang sangat besar.
Data yang dipaparkan CNN Indonesia menunjukkan kapasitas data center yang telah beroperasi di Jakarta mencapai sekitar 637,24 MW pada kuartal pertama 2026, dengan tambahan sekitar 1,65 GW yang masih dalam tahap pengembangan. Bahkan menurut IDPRO, kapasitas data center Jakarta melonjak hampir dua kali lipat dari 288,99 MW pada 2024 menjadi 559,14 MW pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan Indonesia sedang bergerak cepat menjadi salah satu pusat infrastruktur digital di kawasan Asia Tenggara.
Namun pertanyaannya, apakah pertumbuhan itu diikuti kesiapan sumber daya pendukungnya?
Belajar dari Malaysia
Johor Bahru, Malaysia, menjadi salah satu contoh yang kini sering dibahas dalam diskusi global mengenai industri data center.
Pertumbuhan pesat fasilitas digital di wilayah tersebut sempat memicu kekhawatiran mengenai ketersediaan air karena kebutuhan industri, rumah tangga, dan sektor ekonomi lainnya harus berbagi sumber daya yang sama.
Akibatnya, pemerintah setempat mengambil langkah pembatasan sementara terhadap pembangunan fasilitas baru sambil mengevaluasi kapasitas pasokan air yang tersedia.
Kasus Malaysia memberikan pelajaran penting bahwa persoalan data center tidak lagi sekadar urusan teknologi.
Ia mulai menyentuh isu lingkungan hidup dan ketahanan sumber daya.
Air, Komoditas yang Sering Terlupakan
Ketika masyarakat mendengar istilah data center, yang terbayang biasanya adalah ribuan server, kecerdasan buatan, dan jaringan internet berkecepatan tinggi.
Yang jarang disadari, ribuan mesin tersebut menghasilkan panas yang sangat besar dan membutuhkan sistem pendinginan yang bekerja tanpa henti.
Di Amerika Serikat, sebuah data center berskala hyperscale berkapasitas 100 MW diperkirakan membutuhkan jutaan liter air setiap hari secara langsung maupun tidak langsung melalui proses pembangkitan listrik.
Di Australia, bahkan pernah muncul permohonan pasokan air hingga puluhan juta liter per hari untuk mendukung operasional fasilitas serupa.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa revolusi digital juga memiliki jejak ekologis yang tidak kecil.
Konsumsi Listrik yang Mengkhawatirkan
Persoalan lain adalah energi.
Laporan International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik global data center mencapai sekitar 415 TWh pada 2024 dan terus meningkat secara signifikan.
Bila konsumsi listrik seluruh data center dunia diperlakukan sebagai satu negara, nilainya bahkan melampaui konsumsi listrik beberapa negara besar.
Pertumbuhan penggunaan AI generatif dalam beberapa tahun terakhir diperkirakan akan mempercepat tren tersebut.
Semakin banyak data yang diproses, semakin besar kebutuhan listrik yang harus dipenuhi.
Indonesia di Persimpangan Jalan
Bagi Indonesia, kehadiran data center tentu membawa manfaat besar.
Investasi masuk, lapangan kerja tercipta, transfer teknologi meningkat, dan posisi Indonesia dalam ekonomi digital global semakin kuat.
Namun pengalaman negara lain menunjukkan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah investasi yang masuk.
Pertanyaan yang mulai muncul adalah:
- Apakah Indonesia telah menghitung kebutuhan air jangka panjang dari ekspansi data center?
- Apakah daerah yang menjadi lokasi investasi memiliki kapasitas sumber daya yang memadai?
- Apakah kebutuhan industri digital nantinya akan berbenturan dengan kebutuhan masyarakat?
- Dan yang tidak kalah penting, siapa yang akan menanggung biaya lingkungan dari pertumbuhan tersebut?
Jangan Mengulangi Kesalahan Lama
Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai sektor industri yang tumbuh cepat sebelum seluruh dampaknya benar-benar dipahami.
Pertambangan, perkebunan, hingga kawasan industri pernah menghadirkan dilema yang sama: pertumbuhan ekonomi di satu sisi, tekanan terhadap sumber daya alam di sisi lain.
Karena itu, diskusi mengenai data center seharusnya tidak berhenti pada besaran investasi atau jumlah server yang dibangun.
Yang perlu mulai dibicarakan adalah keberlanjutan.
Sebab transformasi digital memang penting bagi masa depan Indonesia. Tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pembangunan infrastruktur, melainkan juga oleh kemampuan memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengorbankan sumber daya yang dibutuhkan generasi berikutnya.
Di tengah ambisi menjadi pusat ekonomi digital regional, Indonesia menghadapi pertanyaan yang semakin relevan:
Siapkah negeri ini menjadi rumah bagi ribuan server, tanpa membuat air dan energi menjadi kemewahan bagi masyarakatnya sendiri?












