Opini Ditulis Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.
Dosen IAIN Parepare / Pengurus DMI Kota Parepare / MPW BKPRMI Prov. Sul-Sel
Maraknya pembangunan masjid di berbagai daerah merupakan fenomena yang patut disyukuri. Hampir di setiap sudut kota, perkampungan, kompleks perumahan, kawasan pendidikan, bahkan pusat perbelanjaan, masjid dan musala berdiri dengan bentuk yang semakin indah. Menara-menara menjulang, arsitektur semakin megah, fasilitas semakin lengkap, dan semangat masyarakat untuk membangun rumah Allah tampak begitu kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecintaan umat Islam kepada masjid masih hidup dan terus tumbuh di tengah derasnya perubahan zaman.
Namun, di balik kegembiraan itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan bersama: apakah bertambahnya jumlah masjid selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas kehidupan umat? Apakah masjid yang megah juga telah ramai dengan jamaah, ilmu, pembinaan generasi muda, pelayanan sosial, dan gerakan pemberdayaan masyarakat? Jangan sampai masjid semakin banyak, tetapi umat semakin jauh dari nilai-nilai masjid. Jangan sampai bangunannya makmur, tetapi jamaahnya belum benar-benar dimakmurkan.
Masjid bukan sekadar bangunan tempat umat Islam menunaikan shalat. Masjid adalah pusat kehidupan spiritual, sosial, pendidikan, dan kemanusiaan. Dari masjid, hati manusia dibersihkan. Dari masjid, persaudaraan dibangun. Dari masjid pula, umat belajar bahwa kemakmuran sejati tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari lapangnya hati, kuatnya iman, baiknya akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Dalam Islam, memakmurkan masjid bukan hanya berarti memperindah bangunannya, memperluas halamannya, atau meninggikan menaranya. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Masjid baru benar-benar makmur ketika jamaahnya hidup, shalatnya ditegakkan, ilmunya dikembangkan, anak-anak mudanya dibina, fakir miskinnya diperhatikan, dan masyarakat di sekitarnya merasakan kehadiran masjid sebagai sumber rahmat. Masjid yang megah tetapi sepi dari jamaah, miskin kegiatan keilmuan, dan jauh dari denyut kehidupan umat, sesungguhnya belum sepenuhnya makmur.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini memberikan isyarat bahwa memakmurkan masjid adalah ciri orang beriman. Artinya, kemakmuran masjid tidak cukup dilihat dari aspek fisik, tetapi juga dari kualitas iman, ibadah, kepedulian sosial, dan keberanian moral umatnya. Orang yang memakmurkan masjid adalah mereka yang menjadikan masjid sebagai tempat memperbaiki diri sekaligus menguatkan tanggung jawab sosial.
Hari ini kita melihat banyak masjid berdiri dengan megah. Di berbagai tempat, pembangunan masjid tumbuh dengan cepat. Ini tentu patut disyukuri sebagai tanda kecintaan umat kepada rumah Allah. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana masjid yang telah dibangun tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga menjadi pusat perubahan. Masjid perlu hadir sebagai ruang pembinaan akhlak generasi muda, tempat belajar Al-Qur’an, pusat musyawarah umat, pusat literasi keislaman, ruang pelayanan sosial, bahkan tempat lahirnya kepedulian ekonomi bagi jamaah.
Memakmurkan masjid berarti menghidupkan jamaahnya. Jamaah masjid tidak sama dengan jamaah shalat semata. Jamaah shalat hadir ketika waktu shalat tiba, lalu kembali ke aktivitas masing-masing. Namun, jamaah masjid adalah mereka yang memiliki ikatan batin, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap kehidupan masjid. Mereka tidak hanya datang untuk shalat, tetapi ikut menjaga kebersihan, mendukung kegiatan pendidikan, memperhatikan anak-anak, menyantuni yang lemah, dan menjaga ukhuwah antarwarga.
Karena itu, mencari kemakmuran di masjid bukan berarti menjadikan masjid sebagai tempat mencari keuntungan duniawi secara sempit. Mencari kemakmuran di masjid berarti mencari keberkahan hidup melalui kedekatan kepada Allah, mencari ketenangan jiwa melalui ibadah, mencari ilmu melalui majelis taklim, mencari persaudaraan melalui ukhuwah, dan mencari kekuatan sosial melalui kepedulian bersama. Masjid menjadi tempat manusia belajar bahwa rezeki bukan hanya uang, tetapi juga ketenangan, kesehatan, persahabatan, ilmu, akhlak, dan doa-doa yang menguatkan kehidupan.
Rasulullah saw. telah memberikan teladan bahwa masjid adalah pusat peradaban. Ketika beliau hijrah ke Madinah, salah satu langkah pertama yang dilakukan adalah membangun masjid. Masjid Nabawi tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, tempat musyawarah, tempat menerima tamu, tempat membina sahabat, dan pusat pelayanan umat. Dari masjid lahir generasi sahabat yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga tangguh secara sosial.
Dalam konteks kehidupan modern, masjid harus mampu menjawab kebutuhan umat. Anak-anak muda yang akrab dengan dunia digital perlu didekati dengan program masjid yang kreatif, edukatif, dan menyentuh kebutuhan mereka. Masjid dapat menjadi pusat kajian keislaman digital, pelatihan literasi media, pembinaan akhlak bermedia sosial, pelatihan kepemimpinan remaja, hingga ruang konsultasi keluarga dan pendidikan. Dengan demikian, masjid tidak ditinggalkan generasi muda, tetapi justru menjadi tempat mereka menemukan arah hidup.
Memakmurkan masjid juga menuntut manajemen yang terbuka, amanah, dan partisipatif. Pengurus masjid perlu melayani, bukan sekadar mengatur. Takmir masjid sejatinya adalah pelayan rumah Allah dan pelayan umat. Mereka bertugas memastikan masjid menjadi tempat yang ramah bagi semua: anak-anak, remaja, orang tua, fakir miskin, musafir, dan siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah. Masjid yang ramah akan melahirkan jamaah yang betah. Masjid yang hidup akan melahirkan masyarakat yang kuat.
Salah satu inspirasi menarik dalam memakmurkan masjid dapat dilihat dari manajemen Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Masjid ini dikenal bukan hanya karena ramainya jamaah, tetapi karena kemampuannya menghadirkan masjid sebagai pusat pelayanan umat. Prinsip dasarnya sederhana tetapi kuat: masjid tidak hanya menunggu jamaah datang, tetapi aktif mendatangi, mengenali, melayani, dan memberdayakan jamaah.
Ada beberapa ikhtiar memakmurkan masjid ala Jogokariyan yang dapat menjadi inspirasi. Pertama, mendata jamaah secara serius. Masjid perlu mengenal siapa jamaahnya, bagaimana kondisi keluarganya, apa pekerjaannya, siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang memiliki potensi untuk diberdayakan, dan siapa yang perlu dirangkul kembali ke masjid. Dengan data yang baik, program masjid tidak lagi berjalan berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata umat.
Kedua, mengubah infak menjadi pelayanan. Dana masjid tidak hanya disimpan, tetapi dikembalikan kepada jamaah dalam bentuk program yang bermanfaat, seperti bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, pembinaan anak muda, dan pemberdayaan ekonomi. Dengan cara ini, jamaah merasa bahwa masjid hadir dalam kehidupannya. Mereka tidak hanya diminta berinfak, tetapi juga merasakan manfaat dari infak yang dikelola secara amanah.
Ketiga, membuat masjid ramah bagi semua kalangan. Anak-anak tidak dimarahi ketika datang ke masjid, remaja diberi ruang berkreasi, orang tua dihormati, fakir miskin dilayani, dan musafir dimuliakan. Masjid yang ramah akan membuat jamaah merasa memiliki. Sebaliknya, masjid yang kaku dan hanya penuh larangan sering membuat generasi muda menjauh secara perlahan.
Keempat, menghidupkan masjid dengan program yang menyentuh kebutuhan umat. Kajian keislaman tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan kegiatan yang dekat dengan realitas masyarakat, seperti pelatihan keluarga, pendidikan remaja, literasi digital, pendampingan ekonomi, layanan konsultasi, gerakan sedekah pangan, hingga pembinaan usaha kecil. Masjid yang makmur bukan hanya ramai saat shalat Jumat atau Ramadan, tetapi hidup sepanjang waktu dengan aktivitas yang membawa manfaat.
Kelima, menjadikan takmir sebagai pelayan jamaah. Pengurus masjid bukan pemilik masjid, melainkan pelayan rumah Allah dan pelayan umat. Karena itu, pengurus masjid perlu mengedepankan sikap terbuka, transparan, rendah hati, dan siap mendengar. Masjid akan semakin makmur jika pengurusnya tidak hanya pandai mengelola bangunan, tetapi juga mampu merawat hati jamaah.
Dari inspirasi Jogokariyan, kita belajar bahwa memakmurkan masjid bukan pekerjaan seremonial, tetapi kerja peradaban. Masjid tidak cukup hanya dibangun dengan semen, batu, dan kubah yang indah. Masjid harus dibangun dengan cinta, pelayanan, kepercayaan, kepedulian, dan program yang menyentuh kehidupan umat. Masjid yang hidup adalah masjid yang mampu membuat jamaah merasa dekat dengan Allah dan dekat dengan sesama manusia.
Pada akhirnya, memakmurkan masjid adalah jalan untuk memakmurkan kehidupan. Ketika masjid hidup, iman umat akan terjaga. Ketika masjid ramai dengan ilmu, kebodohan akan berkurang. Ketika masjid peduli kepada kaum lemah, kesenjangan sosial dapat ditekan. Ketika masjid membina generasi muda, masa depan umat akan lebih terarah. Maka, jangan hanya bertanya berapa besar bangunan masjid kita, tetapi tanyakan pula: seberapa besar manfaat masjid bagi jamaah dan masyarakat sekitarnya?
Mari kita mulai memakmurkan masjid dari langkah yang paling sederhana: hadir berjamaah, menjaga kebersihan, mengajak keluarga, mendukung kegiatan keilmuan, menyapa sesama jamaah, membantu yang membutuhkan, dan menjadikan masjid sebagai pusat kebaikan. Masjid tidak akan makmur hanya oleh satu orang. Masjid akan hidup ketika setiap jamaah merasa memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.
Jangan biarkan masjid hanya ramai saat Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, atau acara besar keagamaan. Jadikan masjid sebagai rumah ruhani yang selalu kita rindukan. Jadikan masjid sebagai tempat kembali ketika hati gelisah, ketika pikiran lelah, ketika keluarga membutuhkan arahan, dan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Sebab, siapa yang hatinya terpaut dengan masjid, insya Allah hidupnya akan lebih dekat dengan keberkahan.
Masjid adalah rumah Allah, tetapi manfaatnya harus dirasakan oleh manusia. Siapa yang memakmurkan masjid, sesungguhnya sedang memakmurkan hatinya. Siapa yang mencari kemakmuran di masjid, sesungguhnya sedang mencari keberkahan hidup yang tidak selalu dapat dibeli dengan harta. Sebab, kemakmuran sejati bukan hanya ketika rumah kita penuh rezeki, tetapi ketika hati kita dekat dengan Allah dan hidup kita bermanfaat bagi sesama.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai masjid, memakmurkan masjid, dan mendapatkan kemakmuran hidup melalui masjid. Semoga masjid-masjid kita tidak hanya indah bangunannya, tetapi juga hidup jamaahnya, kuat ukhuwahnya, luas manfaatnya, dan menjadi pusat lahirnya generasi beriman, berilmu, berakhlak, serta peduli kepada sesama.
Ya Allah, makmurkanlah masjid-masjid kami dengan iman, ilmu, ibadah, ukhuwah, dan kepedulian. Lembutkan hati kami untuk mencintai rumah-Mu. Jadikan masjid sebagai sumber cahaya bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa kami. Bimbinglah para pengurus masjid agar amanah dalam melayani umat. Gerakkan hati generasi muda agar dekat dengan masjid dan tumbuh menjadi generasi saleh, cerdas, dan berakhlak mulia. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.












