Tradisi Ramadan di Masjid RS Aloei Saboe: Jamaah Rutin Mengaji Usai Tarawih dan Subuh

Dokumentasi mengaji bersama selepas tarawih 2 Ramadan
Dokumentasi mengaji bersama selepas tarawih 2 Ramadan

GORONTALO — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al-Adha yang berada di lingkungan RS Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo selama bulan suci Ramadan 2026. Setiap malam setelah salat tarawih dan kembali selepas salat subuh, jamaah berkumpul untuk tadarus Al-Qur’an, menciptakan oase spiritual di tengah aktivitas rumah sakit yang tak pernah berhenti.

Kegiatan ini diikuti oleh beragam kalangan — warga sekitar, tenaga kesehatan, pegawai, hingga keluarga pasien. Dengan duduk melingkar di ruang utama masjid, jamaah membaca Al-Qur’an secara bergiliran, sementara yang lain menyimak dan memperbaiki bacaan.

Masjid yang berdiri sejak 2007 ini memang menjadi pusat pembinaan rohani di kawasan rumah sakit. Selain tadarus, panitia juga menyediakan Al-Qur’an, pengeras suara, serta konsumsi sederhana untuk jamaah yang hadir.

Tradisi mengaji ini bukan kegiatan baru. Pengurus masjid menyebut tadarus Ramadan telah berlangsung sejak lama dan menjadi agenda rutin setiap tahun. Kehadirannya dinilai sangat penting, terutama karena rumah sakit ini merupakan rumah sakit rujukan utama di Provinsi Gorontalo.

Sebagai pusat layanan kesehatan regional, RS Aloei Saboe menerima pasien dari berbagai kabupaten/kota di Gorontalo, bahkan dari wilayah perbatasan provinsi seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Banyak keluarga pasien yang harus tinggal berhari-hari di sekitar rumah sakit, sehingga masjid menjadi tempat bernaung sekaligus penguat spiritual.

“Kegiatan tadarus ini sudah menjadi tradisi yang selalu ada setiap Ramadan. Target kami adalah khatam 30 juz bersama-sama, sehingga siapa pun yang datang bisa ikut mengambil bagian,” ujar Arman, salah satu pengurus masjid yang juga pegawai di BPS Provinsi Gorontalo.

Menurutnya, suasana selepas subuh terasa sangat istimewa karena diikuti oleh jamaah yang baru selesai jaga malam, keluarga pasien yang bermalam, serta warga sekitar yang sengaja datang untuk tadarus.

“Banyak yang datang dengan kondisi lelah atau cemas menunggu anggota keluarganya dirawat. Setelah mengaji atau ikut mengaji bersama, mereka pulang dengan hati lebih tenang. Ini sudah menjadi tradisi yang selalu dinantikan setiap Ramadan,” tambahnya.

Pengurus berharap tradisi tadarus ini terus terjaga dan semakin memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembinaan rohani, terutama di lingkungan fasilitas kesehatan yang melayani masyarakat lintas daerah.

Di tengah hiruk-pikuk layanan medis, Masjid Al-Adha menjadi ruang pemulihan batin — tempat harapan, doa, dan kebersamaan tumbuh sepanjang Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *