Ragam  

Harga Pasir di Tambang Bone Melonjak, Sopir dan Masyarakat Kecil Kian Terbebani

Ilustrasi

BONE – Dugaan kenaikan harga pasir langsung di lokasi tambang (kuari) mulai menjadi keluhan sejumlah pihak. Kenaikan tersebut dinilai memberatkan, terutama para sopir dump truk hingga masyarakat kecil yang membutuhkan material untuk pembangunan.

Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, kenaikan harga pasir bukan persoalan sepele. Biaya pembangunan yang sebelumnya sudah diperhitungkan kini berpotensi membengkak. Bahkan, bagi warga yang sedang membangun rumah secara bertahap dengan mengandalkan penghasilan harian, kenaikan harga material tentu semakin menambah beban pengeluaran.

Sejumlah sopir dump truk pun mengaku terpaksa menaikkan tarif angkut maupun harga jual pasir ke konsumen agar tidak mengalami kerugian. Pasalnya, modal pembelian material di lokasi tambang sudah mengalami kenaikan.

Salah seorang sopir mengungkapkan, kenaikan harga terjadi di dua lokasi pengambilan pasir halus, masing-masing di Desa Lea, Kecamatan Tellu Siattinge, dan Desa Pakkasalo, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

“Mereka menaikkan harga, padahal harga BBM tidak naik. Entah apa alasan mereka, yang jelas ini memberatkan,” ujarnya, Minggu (1/11/2026).

Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir harga pasir halus mengalami kenaikan secara bertahap.

Dampak kenaikan tersebut turut dirasakan konsumen. Harga pasir yang sampai ke wilayah perkotaan bahkan bisa mencapai Rp1,1 juta hingga Rp1,2 juta, bergantung pada biaya angkut.

“Kasihan masyarakat yang hendak membangun,” ungkapnya.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian, sebab pasir merupakan salah satu material dasar dalam pembangunan rumah maupun infrastruktur. Ketika harga di tingkat tambang meningkat, masyarakat sebagai konsumen akhir menjadi pihak yang ikut menanggung dampaknya.

Sopir berharap pemerintah dan pihak terkait turun tangan menelusuri penyebab kenaikan harga pasir di tingkat tambang. Jangan sampai kenaikan harga material yang terus terjadi justru semakin membebani masyarakat kecil, khususnya warga yang ingin membangun rumah dengan kemampuan ekonomi terbatas.

Namun, hingga berita ini dimuat, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola tambang terkait alasan kenaikan harga pasir tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *