Ragam  

Wacana Pemanfaatan Mata Air Abbala Kembali Mencuat, Warga Pasempe Menolak, PDAM: Belum Ada Rencana

BONE – Wacana pemanfaatan mata air Abbala di Desa Pasempe, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan kembali mencuat setelah sempat meredup sejak tahun lalu.

Isu tersebut kembali menjadi perhatian warga usai adanya aktivitas dokumentasi di kawasan mata air yang memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat.

Sejumlah warga mengaku melihat adanya tim yang datang ke lokasi dan melakukan pengambilan dokumentasi beberapa hari lalu. Peristiwa itu memunculkan dugaan bahwa rencana pemanfaatan mata air Abbala kembali akan dilanjutkan.

Padahal, pada 2025 lalu Perumda Air Minum Wae Manurung Kabupaten Bone pernah mengumumkan penemuan sumber mata air baru di Desa Pasempe yang diklaim mampu melayani hingga 10 ribu pelanggan.

Saat itu, Plt Direktur Perumda Air Minum Wae Manurung, Andi Promal Pawi, menyebut sumber air tersebut dipersiapkan untuk mendukung pelayanan air bersih di Kabupaten Bone.

Namun, rencana tersebut menuai penolakan dari warga Desa Pasempe yang khawatir kebutuhan air masyarakat setempat justru akan terabaikan.

Penolakan kembali disuarakan setelah isu itu mencuat lagi. Salah seorang warga, Mamang, menegaskan masyarakat masih sangat bergantung pada aliran mata air Abbala, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pengairan sawah.

“Saya tidak mau air Abbala yang sudah kami jaga turun-temurun digunakan untuk keluar dari daerah Pasempe dan sekitarnya. Kami di RK 1 dan RK 2 saja masih harus bergiliran dengan RK 3 dan RK 4 untuk mendapatkan air bersih. Belum lagi kebutuhan pengairan sawah yang membuat kami harus bergadang bergantian mengatur pembagian air,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Menurut Mamang, kekhawatiran warga semakin besar setelah melihat adanya sejumlah orang yang melakukan dokumentasi di kawasan mata air Abbala.

Penolakan senada juga disampaikan Iqbal, warga asal Desa Pasempe yang kini berdomisili di Papua.

Ia menegaskan masyarakat tidak menolak pembangunan, tetapi berharap pemerintah lebih dulu memastikan seluruh warga desa menikmati akses air bersih sebelum sumber air tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas.

“Kami mencintai kampung kami. Kami tidak menolak pembangunan, tetapi jangan sampai masyarakat sebagai pemilik sumber air justru dikorbankan. Di desa kami sendiri belum semua warga menikmati aliran air hingga ke rumah-rumah. Saat musim kemarau debit air juga kecil, sementara kebutuhan pengairan sawah tetap tinggi. Kalau pemerintah ingin membantu warga Desa Pasempe, lebih baik perbaiki akses jalannya agar aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah,” katanya.

Dikonfirmasi terkait adanya tim yang disebut turun ke lokasi mata air Abbala, Direktur Perumda Air Minum Wae Manurung Kabupaten Bone, Muh. Bahtiar Sairing, menegaskan pihaknya tidak mengetahui kegiatan tersebut.

“Soal itu, kami tidak tahu menahu. Tidak ada terkait PDAM. Mungkin dari instansi lain,” tegas Bahtiar.

Ia juga memastikan hingga saat ini Perumda Air Minum Wae Manurung belum memiliki rencana untuk melanjutkan pemanfaatan mata air Abbala.

“Sampai saat ini, belum ada rencana ke arah sana,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *