SIDENRENG RAPPANG — Aksi DJ Nathalie Holscher yang viral karena disebut menerima saweran hingga Rp150 juta dalam semalam di Cafe dan Resto The Real Sidrap pada 12 April 2025, menuai kecaman luas. Di tengah sorotan tersebut, muncul pertanyaan tajam dari publik: “Masyarakat Sidrap kerja apa?” Pertanyaan ini mencuat karena kontrasnya aksi tersebut dengan realitas ekonomi mayoritas warga Sidrap yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidenreng Rappang menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 28,76 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, menjadikannya sektor terbesar dalam struktur ekonomi daerah ini . Kabupaten Sidrap dikenal sebagai lumbung padi nasional, dengan produksi padi mencapai 502.652 ton pada tahun 2023. Setelah diolah menjadi beras, jumlahnya mencapai 298.306,57 ton, sementara kebutuhan beras lokal hanya sekitar 36.663,74 ton, sehingga menghasilkan surplus lebih dari 261 ribu ton .
Meskipun demikian, pendapatan per kapita masyarakat Sidrap pada tahun 2024 tercatat sebesar Rp59,31 juta per tahun, atau sekitar Rp4,94 juta per bulan . Angka ini mencerminkan bahwa sebagian besar warga bekerja keras di sektor pertanian dengan penghasilan yang relatif rendah.
Kontras antara kemewahan aksi hiburan malam dan realitas ekonomi petani lokal memicu perdebatan di masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa aksi tersebut tidak hanya melanggar norma sosial dan budaya, tetapi juga menunjukkan ketimpangan sosial yang nyata.
THM yang Sama Pernah Ditutup Akibat Insiden Serupa
Cafe dan Resto The Real sebelumnya pernah ditutup pada Maret 2022 setelah insiden serupa yang melibatkan DJ Una.
Pada saat itu, video penampilan DJ Una yang menampilkan aksi “mandi uang” di The Real Cafe Sidrap menjadi viral dan menuai kontroversi. Sebagai respons, pihak berwenang menutup sementara THM tersebut. Namun, kini tempat yang sama kembali menjadi sorotan setelah kejadian serupa terulang dengan DJ Nathalie Holscher sebagai pengisi acara.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan dan penegakan peraturan terhadap tempat hiburan di Sidrap. Masyarakat dan organisasi keagamaan menuntut tindakan tegas untuk mencegah terulangnya insiden yang dianggap mencoreng nilai-nilai budaya dan religiusitas daerah.
Kejadian ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk merenungkan kembali arah pembangunan daerah, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.












