BONE – Dunia pendidikan kembali menghadapi ujian setelah sebuah kasus perundungan terungkap di Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah, di Jalan Husain Jeddawi, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Peristiwa ini menyisakan keprihatinan mendalam, terutama karena terjadi di lingkungan sekolah dasar yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang anak secara aman dan nyaman.
Insiden ini turut menyoroti masih lemahnya mekanisme pengawasan di lingkungan sekolah, sehingga praktik perundungan dapat berulang dan berakhir pada cedera fisik yang cukup serius.
Korban disebut telah beberapa kali mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman sebayanya.
Namun, kejadian-kejadian sebelumnya tidak mendapat penanganan secara serius karena orang tua korban memilih untuk tidak memperbesar persoalan, dengan harapan bahwa semuanya hanya dinamika kecil antar anak-anak.
Sayangnya, insiden terakhir justru menunjukkan situasi yang lebih berat dari yang diperkirakan.
Luka lebam di bagian dagu menggambarkan betapa seriusnya perlakuan yang diterima korban. Kejadian ini akhirnya membuat orang tua korban yang selama ini memilih menahan diri merasa perlu bersuara.
“Sudah keterlaluan, dan ini sudah ada bukti,” kata Suardi, orang tua korban, Jumat (05/12/2025) pagi.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah, Andi Irfan, membenarkan adanya insiden tersebut dan menyampaikan bahwa pihaknya telah memanggil orang tua siswa yang terlibat untuk memberikan keterangan dan menentukan langkah lanjutan.
“Anak ini sudah kita kembalikan ke orang tuanya dan akan kita keluarkan, sebelumnya juga kita sudah berikan surat peringatan terakhir,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (05/12/2025) sore.
Ia juga mengakui bahwa kejadian seperti ini bukan yang pertama. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa pengawasan dan pencegahan perlu diperkuat agar lingkungan sekolah tetap menjadi ruang yang aman bagi setiap anak.
Kasus ini menegaskan bahwa perundungan tidak boleh dianggap sepele. Dampaknya dapat dirasakan secara fisik maupun emosional. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan menjadi kunci agar kejadian serupa tidak kembali terulang.












